Selamat jalan, Ger…….
Aku tak akan pernah melupakan senyum manisnya, muka teduh (bahkan sendu) miliknya, tutur katanya yg begitu lembut dan sopan….Dia tidak tampak seperti wanita Batak umumnya, yg tidak bisa berbasa-basi, yg tidak kemayu..dia lebih seperti wanita Jawa-Solo.
Dia sangat baik, salah satu dari beberapa orang baik yg pernah aku jumpai selama hidupku. Aku selalu ingat, betapa anggun nya dia dengan baju pramugarinya itu,sungguh anggun.
Aku sudah mengenal dia kurang lebih tiga tahun lamanya, selama itu pula, aku tak pernah melihat dia menyakiti orang lain, tidak pernah berkata tidak sopan, tidak pernah judes sama orang lain.Sangat baik, di lingkungan pergaulan kami pun, dia salah satu orang yg sangat disayangi…Semua orang menyukai Gerda…
Mukanya sangat sendu…Setiap kali dia minta tolong atau minta bantuan kepada orang lain,tidak ada yg kuasa menolak…Ah,terbayang lagi senyumnya itu…Terbayang lagi semuanya…
1 Desember 2007,
Aku sedang di jalan menuju ke Toba Dream,karena aku sudah berjanji dengan teman2 Toba Dreamer…Tiba2 di tengah jalan,seorang temanku menelepon, di ujung telepon aku mendengar suara yg sangat akrab aku kenal, suara yg biasanya ceria…tp tidak untuk kali ini, dia menangis, terisak isak, sesenggukan, dia berbicara terputus2, aku tidak jelas mendengarnya, dan yg aku tangkap,dia hanya menyebutkan nama Gerda berulang ulang, dan akhirnya dia menyempurnakan kalimatnya “Gerda udah ga da Des,dan dia nyariin lo, lo ga ada buat dia,lo dimana des?Lo ga ada buat dia..”
Deg!Saat itu juga, aku merasa linglung dan kebingungan.Aku ga tau harus bagaimana, aku hanya terdiam.Tidak menangis, tidak berteriak dan histeris.
Kata2 temanku yg terakhir terngiang2 di telingaku, aku ga ada untuk dia di saat2 terakhirnya…Teman macam apa aku ini?
aku segera memutar haluan ke RSCM,aku ingin tau keadaan temanku itu, aku masih berharap berita itu salah, aku berharap bukan Gerda yg itu yg meninggal, tapi Gerda yg mana lagi?
Begitu sampai di depan rumah sakit, tiba2 langkahku terhenti, aku ga bisa melanjutkan langkahku, aku persiapkan diriku, utk menyaksikan keadaan dia…
Aku tak menyangka bahwa aku ternyata pengecut utk menghadapi
hal seperti ini…Aku bolak balik gelisah tak menentu,
akhirnya aku putuskan untuk masuk dan menghadapi keadaan
apapun yg ada di dalam sana.
Dan aku pun sampai disana, di tempat dia dibaringkan, aku
melihat temanku itu sudah terbujur kaku, dia sudah pucat,aku
sentuh, dia sudah sangat dingin, aku hanya terdiam dan
terpaku, tanpa bisa berkata apapun.Dan mataku tertuju ke
perutnya,….Oh Tuhan, semakin pedih hatiku membayangkan
penderitaan dia di saat2 terakhirnya.Aku semakin miris,
semakin merasa bersalah, kemana aku pada saat dia meregang
nyawa?kemana aku pada saat dia akan dijemput malaikat maut?
kemana aku pada saat Gerda mencariku?Dimana aku saat itu?
Sungguh menderita dia, sungguh kesakitan dia.Akupun langsung
memeluknya, tak lama mataku perih karena formalin…Dan
asmaku langsung kambuh, karena formalin sialan itu.Maka aku
pun memutuskan sementara keluar supaya nanti aku tidak
membuat orang2 malah repot mengurusi aku.
Kamipun sempat kebingungan dengan keadaan malam itu,dia
terkenal sangat introvert…Sehingga kami tidak tau kemana
kami harus mencari keluarganya, kami hanya tau bahwa saat
ini, orangtuanya berdomisili di Magelang.Selebihnya kami
tidak tau.Dan akhirnya setelah melalui penelusuran panjang,
kami bisa menghubungi inang uda nya (adik mamanya kandung)
yg ada di Pluit.
Dan akhirnya malam itu, setelah melalui perdebatan panjang,
diputuskan untuk membawa dia ke Magelang.
Dan kamipun menangisi dan menciumi nya sebelum dia dibawa ke
Magelang.Oh Tuhan, seumur hidup aku tidak akan lupa
bagaimana cara dia pergi, dan betapa jahat dan tidak
bertanggung jawabnya lelaki biadab itu.
Selamat jalan Ger….Aku akan selalu merindukan senyum manismu,lembutnya tutur katamu, baik budimu.Tuhan, sambutlah sahabat terbaikku itu di sisi Mu.Amen.
Desember 12, 2007 pada 4:07 am
Kehilangan seorang teman yang sungguh kita kasihi, itu sama seperti kita kehilangan separoh dari hidup kita. Uda turut sedih karena boru gak ada saat dibutuhkan temanmu itu di sisinya. Biarlah setiap kejadian menjadi “guru” untuk kita lebih baik ke depan. Untuk lebih mengerti arti hidup kita sesungguhnya bagi sesama. Uda turut berdukacita…
Partalitoruan:
Salah satu penyesalan yang selalu ada dalam hatiku,dimana aku pada saat dia meregang nyawa,ah uda jd muncul sisi sentimenku itu bah.Dang tarhatahon i bah
Januari 13, 2008 pada 1:47 pm
Ikut prihatin…
Februari 3, 2008 pada 9:23 am
Mungkin saat ini dia sedang tersenyum melihat orang-orang yang dicintainya mampu melanjutkan hidup dan bangkit dari duka dan saatnya bagi orang-orang yang mencintainya untuk melanjutkan impiannya….
Yakinlah, dia sudah damai di rumah Tuhan
Partalitoruan
Betul eda, sering sekali aku teringat dengan sahabat ku itu, tapi memang aku hanya bisa mengirimkan doa aja untuknya. Layaknya iban Brata, suatu saat kita juga akan bersama dengan mereka disana-semoga.
Agustus 21, 2008 pada 3:52 am
hmmm..sangat melankolis..
sakit apa gerangan si gerda itu ito?
horas
Par Batam
Partalitoruan
Via japri ma ateh ito