Marrude-rude
12 Januari 2008, Sabtu yang sungguh menyenangkan. Aku menghabiskan malam minggu kali ini, sangat penuh dengan keceriaan. Ada banyak sahabat-sahabat di dekatku. Terutama, dua sahabat istimewa, yaitu kawanku Melda Hutapea, yang datang dari Bandung, karena aku komporin untuk menonton shownya si Pikky (Viky Sianipar) featuring Korem Sihombing, dimana aku tau kawanku ini sangat menyukai karya-karya si Pikky apalagi featuring Korem Sihombing. Dan satu lagi, seorang perempuan Batak yang sangat aku kagumi, kakak sekaligus seniman besar, Grace Siregar, pemilik Galeri Seni, Tondi yang beralamat di Jl.Keladi Buntu No.6 Medan.
Diawali dengan marrapot soal rencana mengadakan semacam talk show ringan yang bertajuk Toba Dream Coffe Morning, yang nantinya kita harapkan bisa sebagai wadah untuk berdiskusi berbagai macam topik sosial, budaya dan adat. Sekaligus nanti menemukan solusinya, dan sekaligus kita bisa memberikan inspirasi kepada yang lain untuk melakukan gerakan yang sama, yang pada dasarnya bermuara pada satu tujuan yaitu, membangun kampung halaman, alias bona pasogit. Seperti kata ompung Monang Sianipar, bahwa hal yang baik-baik itu menular. Itulah yang jadi dasar pemikiran kita. Tidak pelit berbagi ilmu, karena siapapun nanti yang bergerak lebih cepat, tidak masalah, yang penting tujuan untuk mengembangkan bona pasogit tercapai. Kebanyakan wadah sejenis, mandeg di tengah jalan. Kebanyakan karena tidak mau terbuka dengan masukan dari dunia luar atau tidak siap dengan kontradiksi, atau malah kebanyakan kontradiksi? Dan yang paling penting, di wadah ini kita buang jauh-jauh HOTEL. Kita buktikan kita adalah batak keren,yang melakukan big breaktrough dan menyingkirkan sifat itu (yang kata orang, sudah bawaan lahirnya orang Batak), kita buktikan bahwa itu bukan bawaan lahir. Dan kita buktikan kita bisa sukses tanpa ”bawaan lahir itu”.
Setelah acara marrapot itu, kami lanjutkan acara di lantai II. Show itu dimulai jam 22.00 dimulai dengan Journey To Deli, ciptaan si ganteng Tengku Ryo. Dari awal show, ka Grace nyaris tidak pernah duduk, dia selalu standing dan berjoget-joget dengan sangat semangat, hira na baru malua sian bulusan, hira na lagi mardabu sinta ibana bah. Dia sangat happy malam itu, dan happy itupun menular sama aku. Ah, senangnya.Aku sangat berterima kasih pada Tuhan, atas semua teman-teman yang aku punya itu. Inilah salah satu alasan yang masih bisa membuat aku betah menajdi penghuni ibukota yang semakin hari semakin tidak asik untuk ditempati. Dan komunitas ini juga yang mengajarkan aku banyak hal,termasuk budaya, seni, musik, habatahon, bersosialisasi yang baik dan bagaimana membina hubungan sosial, baik dengan lawan jenis. Tidak dipermasalahkan umur, yang penting mau belajar dan siap dikritik dan diajari.
Kita sangat menghindari pembicaraan politik, itu adalah topik pilihan terakhir, kalau sudah kehabisan topik aja baru kita singgung.
Back to the show, menikmati setiap kebersamaan dengan sahabat adalah hal terindah yang pantas aku syukuri dalam hidupku saat ini. Di usiaku sekarang ini, aku diberi Tuhan kesempatan mengenal mereka-mereka yang hebat banget menurut aku. Malam itu, sampe keringat bercucuran pun sudah tak kupedulikan. Gaya berjoget yang tidak jelas gayanya, sudah tak dipedulikan lagi.Yang penting kebersamaan dan tawa yang ada disana. Aku sangat menikmatinya. Bagaimana aku menarik tulang Marudut P-1000, tulang Charlie dan ka Grace untuk berjoget di depan, sedangkan aku sendiri tetap berada di tempatku (hehehehehehe), kata tulang Charlie ”provokator do ho ateh ito”. Menyenangkan melihat ekspresi mereka bertiga, apalagi ka Grace. Boru Batak jagoan seni, yang menggebrak meja tiba-tiba untuk membacakan puisi ”Damai” nya yang sempat membuatku kaget. Ooo, inilah orang seni yang sebenarnya itu. Dan pada saat kakak itu di daulat untuk naik ke pentas oleh si Pikky, dia pun membacakan dua buah puisi karya salah satu seniman besar Batak, yaitu Saut Sitompul. Yang ditampilkan di Majalah Batak keren yaitu ”TAPIAN”. Dan diselingi dengan dia menyanyikan ”ue…lugahon au da parahu, ullushon au da alogo, manang tudia pe taho” dan jangan salah, suarnya itu, dahsyat. Sedahsyat penghayatan dia terhadap puisi-puisi yang dia bacakan itu.
Dan dalam hati, akupun berjanji akan mengulang kembali ”sukses” malam itu dengan sahabat-sahabatku, terutama ka Grace dan Melda. Mudah-mudahan nanti sewaktu aku pulang ke bonapasogit, aku bisa marrude-rude bersama mereka berdua, batinku.Semoga!
Januari 15, 2008 pada 7:05 am
Bah bah kok zadi konspirasi gender begini? paling parah lagi yang disebut cuma yang berlevel Tulang saja. Dilupakan awak ini yang terlanjur nggak pasang label Tulang.
btw apresiasimu terhadap grace sedikit menghibur hatiku. Ternyata desy sudah kembali mentolerir lingkungan yang rock n roll.
Partalitoruan
Bukannya konspirasi bah bang, yang memang kebetulannya kedua sahabat ini sangat colourful malam itu. Mungkin lagi malam tulang malam itu, malam ito haduan pe muse.Kenapa emang aku dengan toleransi dunia rock n roll?aku pun suka nya rock n roll.
Horas
Januari 16, 2008 pada 3:47 am
Akkhh tahe…enak kali pun klean itu bah.
Bisa kubayangkan, tapi nanti kalau jumpa klean malu-malu aku, dan jangan disuruh joget yah ito.
Partalitoruan
Ah dang diterima hami na malu2, aha kamsud ni ito malu2?Na malu-maluin do diterima hami.
Na paila2 hon, dikomandani si Nai Malvinas
Bah ikkon marjoget do ito, dang acci hera mandor ito
Januari 17, 2008 pada 2:13 am
Bah, enak kali kudengar cerita ito ini, pengen rasanya gabung-gabung sama kalian. kapan ya aku bisa maen kesana. bertemu dengan teman-teman yang selama ini hanya ketemu di dunia maya saja.
Partalitoruan
Horas ito, ro ma ito,sangahon ma jo, apalagi marsogot borngin, si Tongam Sirait na marende, asa tabereng jo pareman ni Tiga Raja i marende ito.Ro ma ito, hami pe harap situtu do boi pajumpang tu ito.
Hupaima hami da ito.Horas
Januari 17, 2008 pada 2:57 pm
ehhh tahe si desy na mabaoron..
nga tabo2 stan nibaa..
ai tong do i ingot si aceh pungo na malungun i..
unang papikkir hu ho tusii..
au dongaan mu molo masalah menjmblo do..
asa rappak muli hita annon..
Partalitoruan
Amange jo ces, dang na malungun i,na lagi menjauh do ibana. Sadihari jahaon na annon on, asa diboto na sinta situtu iba tu ibana ces. Ces,marrude-rude hita muse ateh sogot borngin.
Rappak muli?Unang paihut2 au, ho ma parjolo
Februari 13, 2008 pada 12:03 am
desi,
haaaha salut juga aku sama kau anggi, dengan cara kau bercerita dan bertutur. memang saatnya kita tidak menunggu suatu penerbitan buku untuk membukukan buah pikiran kita. ini adalah cara yang sangat praktis dalam menulis dan kau sudah mulaikan itu.
bangga aku samamu anggi.
grace siregar
Partalitoruan
Bah tarsonggot aku daba di haroromon akkang. Mansai las rohakku daba ka.Mauliate da ka,ajari au torus da ka.
Aku juga bangga kali sama mu ka.
Februari 13, 2008 pada 12:05 am
ro ma anggi tu medan. asa pajumpang hita! songon na lungun ho to hutami. molo ro ho di medan, manginap ma anggi di jabu nami da?
horas,
grace siregar
Partalitoruan
Olo ka, molo tu huta au, ro pe au tu bagas mu ka. Yippei menyenangkan sekali undangan mu itu ka……
Horas,
Februari 29, 2008 pada 3:06 pm
ro mahamu tu parapat angka dongan…,asa tabege bang TONGAM marende di kode tuak….salut buat bang TONGAM,sian adek mu di AJIBATA.