Adam Air oh Adam Air
Dua hari terakhir ini, aku sering sekali membaca berita tentang rencana Adam Air yang akan berhenti beroperasi. Malah terakhir aku lihat per hari ini di detik.com, banyak penumpang di beberapa bandara di tanah air yang belum mendapatkan kejelasan soal perjalanan mereka menggunakan maskapai ini, salah satunya, di bandara Polonia, sekitar 80 orang penumpang yang sudah membeli tiket Adam Air, mulai kesal bahkan mengamuk di depan loket penjualan tiket Adam Air di bandara yang belum lama ini kebakaran itu. Aku langsung senyum-senyum, membayangkan cem mana mereka ngamuk-ngamuk, apalagi kalo ada mamak-mamak disana, bah hajablah orang yang sedang bertugas di loket itu. Atau tak pala dia pusing, dia jawab pulak nanti dengan ga kalah sengit (bah!). Wajar kalo para penumpang itu kesal bahkan marah. Karena tiba-tiba aja tiket yang sudah ditangan mereka tidak jelas berlaku atau tidak. Dan sebelumnya tidak ada notice dari pihak maskapai ini, soal kejelasan tiket mereka. Gimana mungkin, tiba-tiba aja maskpai sebesar itu tidak beroperasi lagi tanpa ada pemberitahuan sebelumnya? Sedangkan took kecil mau libur aja, ada pemberitahuan minimal dia buat plang karton ala kadarnya memberi tau mereka libur dan akan buka kembali, karena takut kehilangan konsumen, gimana dengan maskapai? Masa iya mereka tidak ada persiapan untuk itu? Masa iya ini tiba-tiba, paling tidak gejala mengarah kesana kan harusnya sudah terlihat. Jadi, mereka sudah woro-woro sebelumnya. Tapi memang, dari semua maskapai yang ada di tanah air, maskapai berwarna orange ini paling banyak bermasalah. Yang paling tragis dan masih segar diingatan bangsa ini, adalah hilangnya pesawat Adam Air rute Surabaya-Manado. Dan sampai sekarang entah dimana rimbanya. Kotak hitamnya sudah ditemukan, tapi entah gimana kelanjutannya. Aku suka membayangkan bagaimana perasaan para keluarga korban? Sanak saudara mereka tidak jelas keberadaannya. Bagaimana perasaannya? Sedangkan pencarian terhadap mereka pun sudah dihentikan, gimana mungkin yah? Yang paling baru kasus maskapai orange ini, pendaratan darurat yang dia lakukan di bandara Hang Nadim, Batam. Yang menyebabkan kepanikan penumpangnya, dan akibat pendaratan darurat ini, sayap pesawat itupun patah. Apakah ini semua ada korelasinya dengan harga tiket pesawat yang sudah tidak semahal dulu lagi? Tapi semakin belakangan ini, tiket pesawat sudah semakin mahal. Dan pelayanan pun semakin berbanding terbalik dengan harga tiket. Disamping itu trend delay pun sering kali terjadi dengan maskapai penerbangan kita saat ini. Seharusnya ini sudah menjadi pe-er berat bagi departemen yang berkaitan dan pemerintah. Karena tak lucu kan kalo angka kematian tertinggi nantinya bukan lagi sakit jantung atau kanker, tapi kecelakaan karena kelalaian transportasi. Bah apa kata dunia?
Maret 19, 2008 pada 3:06 am
Horas ito, sepertinya aku pemberi komentar yang pertama. Tapi aku tidak tau harus berkomentar apa dalam masalah ini. Horas ma ito ate, he he …..! ngisi absen jadilah.
Partalitoruan
Hadir ateh.Happy Easter untuk ito dan sekeluarga
Maret 19, 2008 pada 4:49 am
Tidak akan banyak korban kalau pencabutan ijin terbang adam air dilakukan pertengahan tahun lalu. Itulah pengalaman terakhirku terbang bersama adam air.
Kualitas sdm nya sangat buruk. Manajemennya sangat arogan, baik terhadap penumpang maupun terhadap pegawainya.
Partalitoruan
Sada nai tulang, pramugari na jutek2 hera suster ngesot bohina.Terbang bersama hantu
Maret 22, 2008 pada 12:40 am
Uju i, tung mansai jarang do na sanggup naek hopal habang. Hinorhon ni arga ongkosna. Dang piga halak, na boi tu si. (biasa, angka na mora i, sai matua dipakke nasida do minyak wangi na arga. Tikki marhopal habang). Saonari, hinorhon ni perang tarif, arga ni ticket gabe boi terjangkau di hampir sude. Sipata, mar’goni plastik’ na ma jolma i naek pesawat. Gabe dang angur minyak wangi be hopal habang i. Alai, nga sipata gabe angur minyak gosok (avitson, rheumason..dll). Sada las ni roha do, molo boi terjangkau arga ni ticket i. Alai, na porlu di si, tong ma nian botul-botul diparrohohan management ni maskapai penerbangan i, keselamatan ni panompang. Asa tong-tong nyaman jala tarlumobi ‘aman’.
Mauliate.
Maret 22, 2008 pada 6:36 am
Aku ingat pertama kali Adam Air hadir di dunia maskapai penerbangan tanah air kita, penerbangan perdana aku dan Dony Darmawan kebetulan sama-sama pulang ke Balige. Jadilah kami salah satu penumpang yang merasakan penerbangannya. Waktu itu oke aja, mungkin karena promosi. Tapi pada penerbangan berikutnya, mulailah muncul berbagai keluhan. Ini disebabkan ketidak seriusan pihak managemen mengendalikan perusahaan atau hanya karena keinginanmengejar untung saja tanpa peduli dengan kwalitas dan keselamatan penumpang ? Entahlah, mereka yang tahu pasti. Hanya satu yang disayangkan, dengan tutupnya maskapai penerbangan ini maka jumlah pengangguran bakal tambah lagi…
Partalitoruan
Botul ma i tutu eda, gabe tambah ma akka pengangguran i Indonesia on.Ai sude manis parjolo-jolo na i eda.
Maret 23, 2008 pada 11:59 am
Kasus Adam Air ini membuktikan betapa brengseknya pemeritah kalian itu.
Orang-orang di Departemen Perhubungan pasti sudah lama tahu ada praktek-praktek busuk di Adam Air; tapi sengaja dibiarkan demi melindungi investasi mereka. Keselamatan dan nyawa penumpang dipertaruhkan demi membela MODAL.
Coba, ada berapa ribu orang yang rugi dan kacau balau jadualnya gara-gara Pemerintah tidak bertindak semestinya. Hari Minggu, harian Kompas sudah menulis secara gamblang kepanikan calon penumpang Adam Air di berbagai kota, tapi pemerintah baru bertindak hari Rabu…dan gilanya pihak Adam Air masih saja menjual tiket. BRENGSEK!
Beginilah jadinya kalau punya presiden yang lebih memihak pemodal daripada menjalankan kewajiban konstitusionalnya untuk melayani rakyat. It’s a rebellion, honey.
M E R D E K A !
Partalitoruan
Unang dok holan pemerintah nami i bang.Rupani hera na asing sandiri pemerintahmu da.Sandok, unang niihuthon akka na salah i asa unang dohot hita muse salah atik boha adong kesempatan hundul hita i pamarentaan haduan muse.
Maret 27, 2008 pada 7:56 am
Mudah-mudahan ada hapal habang tujuan Jakarta – Medan yang sama tarif-nya dengan ADAM AIR yang tidak tahu diuntung.
Sudah Tahu hapal habang on dang boi parkir diginjang dan pesawatnya tidak layak terbang, masih juga dipaksakan terbang dan disamping para pilot-nya kurang pengalaman, Jatuh-lah KAU !!!
Inilah Indonesia yang selalu ” GAMBLING ”
Horas
Partalitoruan
Hahaha, Jatuh-lah KAU !!!