Natal di huta

Natal sudah dekat…
Tadi malam, sebelum tidur, aku melamun (lebih tepatnya me-rewind) masa-masa Natalku dulu.Yang aku habiskan di kota kecil bernama Balige.Semasa kecilku, aku masih mengalami Natal kampung, yang diisi dengan pembacaan liturgi (ayat-ayat),menari (entah apa hubungannya dengan natal,malah di sesi inilah yg paling rame),drama dan lelang (nah kalo yg ini untuk mencari dana).

Sebelum acara dimulai, terlebih dahulu kami mengadakan pawai keliling kota.Memamerkan baju-baju baru, dengan musik mengiringi pawai kami.Ah,senangnya mengikuti Natal itu.Apalagi kalo kita terpilih mengikuti banyak kegiatan.Yang menari lah,drama lah.Sude ma i.Semakin banyak kita ikut kegiatan,maka saweran makin banyak.Apalagi di sesi menari.Sampe kadang-kadang ga konsen lagi menari saking sibuk mengurusi saweran.Yang lebih lucu,setelah sawer-menyawer,maka dari pihak panitia akan naik ke pentas untuk memungut “beo” dari para penari,yang tentu saja tidak kita kasi semua.Ada2 aja cara utk menyelipkan”pendapatan” itu.Ada yg masukin ke kantong celana/rok,ada yg tidak punya kantong,memilih menyelipkan di dada (songon na matua na marpuro-puro).Asa haru selamat akka pancarian on,ninnaroha na be.Biasanya,malam natalnya tidak terlalu ramai,paling dihabiskan dengan sama-sama gereja dengan keluarga lengkap.Nah kalo untuk yg ini, aku nyaris tidak pernah merasakan, karena amonghu pasti dengan segala jawabannya menolak untuk ke gereja.Habis itu, paling berkumpul di rumah.Malahan ramainya di malam tahun baru.Karena ada doa bersama,sehabis dari gereja,berkumpul bersama keluarga di rumah,atau berjalan-jalan sebentar ke kota,menunggu jam 00.00.Kemudian pada saat lonceng di gereja berbunyi,semua anggota keluarga wajib berkumpul,begitu yg sudah sempat terlelap tidur,dibangunkan.Sering dulu aku menghindari acara ini,berharap anggota keluarga terutama untuk orang tua ku,tertidur.Karena, pasti akan ada sesi menasehati, sesi membuat doa,diurutkan dari yang paling kecil (berdasarkan umur),dulu jaman ompung dari bapak masih ada,dia membuat doa paling panjang.Hampir semua dia doakan, dari mulai yg di rumah sakit sampai yg di rumah potong.Kalau setiap giliran ompung yg berdoa,maka aku langsung mencari posisi untuk menyandar untuk bisa tertidur,saking panjangnya doa nya.
Semuanya…..
Ah,aku merindukan saat-saat itu

3 Tanggapan to “Natal di huta”

  1. *dari mulai yg di rumah sakit sampai yg di rumah potong*
    Hahahaha…lussu kali ceritamu ini ito, jadi ingat aku ada lawak batak ttg doa dimalam taon baru itu
    Mungkin ito udah tahu ceritanya, jadi gak usahlah kuceritakan, kalo aku ito, waktu malam taon baru wajib nangis hukumnya dan ‘nyesal’ dan minta maaf sama yg tua2 dgn satu alasan supaya dapat uang tahun baru, hehehe…

    Partalitoruan:
    Au pe ito attar hera na manolsoli do,mandok jora, hape dang sadia leleng nunga di ulakhon muse..Hemma dah
    horas

  2. boasa i di bahek’o
    au naeng malului ayat liturgi do
    dang mambege curhat ho
    nga’acit uluki

    horas ma diho eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee

    HORAS BAH

    mauliate

    unang pola di lului ho au da

  3. bah, hurimpu naung di update. alai, ndang pola boa, horas ma. salam kenal.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: