Wanita mandiri atau “mandiri”???

Seorang temanku, cowo, bercerita bahwa dia baru putusin pacarnya. Aku tanya alasannya, karena pacarnya itu terlalu mandiri.

Hmmm, segitu menyakitkan kah kenyataan itu buat dia sehingga dia sampai mengakhiri hubungan itu?

Dan aku menemukan jawabannya dalam hatiku sendiri. Memang benar bahwa kemandirian pacarnya yang terlalu itu, benar menyakitkan. Gimana mungkin, dia tidak ada melibatkan temanku itu dalam kehidupannya?Oke lah dia tidak mau menyusahkan dan merepotkan. Tapi, tentu saja si cowo ini juga kan akan senang hati bila sekali waktu dia dimintai tolong, dia tentu tau konsekuensi akan “direpoti” sedikit sama si wanita dalam batas yang wajar (malah terkadang ga wajar), dari awal.

Banyak sekali aku lihat kenyataan yang berlangsung di kalangan kaumku, mandiri yang kebablasan. Oke lah mandiri, tapi apa iya sampe kita tidak butuh kaum adam kah? Aku rasa tidak. Boleh kita mandiri, boleh kita jadi cewe jagoan, boleh kita serba bisa dalam segala hal, termasuk ahli dalam melakukan pekerjaan lelaki. Tapi kita tak boleh mengingkari bahwa ada beberapa hal yang memang adalah hak lelaki. Aku tau, dan aku sudah mengalami bahwa banyak sekali kaumku yang menentang aku dengan pola fikirku yang seperti ini, katanya aku bukan wanita metropolis sejati!Bukan wanita mandiri sejati!Begitukan, Jes? (mudah-mudahan Jesica Iskandar,temanku itu membaca ini). Aku rasa, tidak sedangkal itu pemikiran dan penilaian terhadap kemandirian itu, apalagi untuk kaumku.

Aku sangat “fanatik” perempuan, sampe2 bang Robert bilang aku ga fair dan ga balance kalo selalu condong terlalu membela kaumku. Tapi, aku akan sangat benci kepada perempuan yang melecehkan lelaki. Kecuali memang laki-laki itu kurang ajar! Ibuku juga seorang perempuan yang mandiri,sangat. Tapi satu hal yang aku kagumi darinya, dia tetap menghargai lelaki, terutama bapakku. Dia tidak pernah berteriak kala bapakku juga berteriak, dia lebih memilih diam. Setelah bapakku diam, barulah gantian dia yang merepet.

Kemandirian itu kadang-kadang malah mempertajam egoisme dalam diri wanita. Karena bisa melakukan semuanya, jadi ga butuh lelaki lagi. Menyedihkan. Apalagi kalau egoisme itu berlaku sampai dia sudah menjadi seorang istri dan ibu. Dikala dia merasa kemandirian nya itu perlu ditunjukkan dalam keluarga, perlu mengalahkan suami, mulai lah dia tidak merasa mementingkan suami lagi. Dia tidak takut lagi maju ke pengadilan dan menggugat cerai suaminya.

Aku rasa, kaum ada itu juga akan sangat senang memanjakan kita sekali2, sangat senang merasa dibutuhkan dan dihargai. Sangat senang kalo kita melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan. Dan mereka juga sangat bangga melihat kemandirian kita dan keberanian kita. Mereka akan nyaman dan senang karena kemandirian kita itu, mereka ga khawatir lg saat kita memberitahu kita pulang malam, kita pergi ke suatu tempat sendiri, karena kita perempuan mandiri dan berani.

Aku masih berfikiran tradisional untuk beberapa hal dalam konteks hubungan antara wanita dan lelaki. Wanita, mengambilkan makanan untuk suaminya, menemani dia makan malam, walaupun hanya cicip-cicip kecil karena takut gemuk, yang paling penting adalah komunikasi yang terjalin saat di meja makan nya. Karena, seharian sudah melakukan pekerjaan masing-masing, tidak ada kesempatan untuk berdiskusi, jadi momen makan malam, bisa dipergunakan. Semodern-modern nya perempuan,semandiri-mandirinya dia, dia harus tetap menyadari bahwa ada beberapa hal yang pria memang jagoan nya. Harus kita akui juga, bahwa kita butuh mereka.

Siang hari boleh kita jadi “raksasa” kerjaan, jadi bos yang bisa merintah sekian bawahan, yang sangat ahli dan cakap dalam kerjaan dan kehidupan sosialitas kita. Tapi,sesampainya di rumah, tanggalkan itu semua, jadilah “pelayan” bagi suami dan keluargamu. Buat yang masih melajang sepertiku, bole juga ni belajar dari sekarang, belajar berbagi, belajar peka, supaya nanti ga mati rasa ama suami (hahahahahahaha).

Derajat “pelayan” itu jauh lebih tinggi dari orang yang dilayani.

Hidup wanita “mandiri”

Satu Tanggapan to “Wanita mandiri atau “mandiri”???”

  1. ya HIDUP WANITA MANDIRI

    Partalitoruan
    Juli, wanita mandiri yang mana?😉 aku harap kita sama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: