Terima kasih Tuhan

Tidak sedikit orang yg benci dan sirik dengan bapakku. Tapi, apapun kata orang,amonghu do i (itu bapakku). Bagaiman bapakku dikhianati oleh temannya sendiri. Temannya ini sudah berkeluarga juga, dulunya mereka ini sama2 sekolah, sama2 nakal, sama2 sekolah nomaden (alias sering berpindah2 tempat, sampai akhirnya mereka lulus dari SMK di porsea.Bah!).

Bagaimana bapakku selalu menghargai persahabatannya, bagaimana dia selalu membela teman2nya. Sampai kadang2 terkesan konyol.Gimana ga, dia itu sampe menelantarkan kami kadang2 saking jiwa bertemannya itu.Saking solidaritasnya itu. Mamakku aja suka gondok dibuatnya.

Dia sangat kecewa dengan pengkhianatan temannya itu. Temannya itu, mengajak orang-orang untuk membenci bapakku. Bermacam cara dibuat untuk menghasut orang2. Mulai dari bilang kami itu memonopoli, sampai katanya kami membuat bau perkampungan itu dengan kotoran kerbau. Bah, horbo i do dalan ngolu nami.

Segitu pun, bapakku tak benci dia, tapi bapakku hanya menjaga jarak saja darinya. Dan menasehati kami, supaya tidak membenci orang itu, tapi tetap menjaga jarak darinya. Kata bapakku, yang waraslah yang ngalah.Bah!

Aku sering menginginkan lelaki yang kelak menjadi teman hidupku, gigih dan pekerja keras seperti bapakku. Bapakku itu, imannya sangat hebat, sekalipun dia itu jarang ke gereja. Aku masi ingat, kalo dulu, jauh sebelum kami mampu untuk beli mobil pick up itu, peralatan dan spare part mobil di rumah kami, sudah sangat lengkap. Layaknya kami sudah punya mobilnya. Itulah iman, meyakini apa yang sudah dia minta kepada Tuhan, seolah-olah sudah diberikan. Bapakku si kariting itu, sangat galak.Apalagi dalam urusan menjaga borunya, urusan sekolah dan paling galak sama polisi. Aduh, udah seperti musuh bebuyutan deh bapakku sama polisi. Benci kali bapakku itu sama polisi. Dan tak ada takutnya dia sama polisi, sedikitpun tak ada. Kadang-kadang polisi nya juga sih, cari-cari pasal aja. Padahal semuanya lengkap surat-suratnya. Apalagi kalau bapakku itu membawa truk kami dengan muatan kerbau di dalamnya, polisi itu akan menganggap itu sebagai sumber uang. Padahal kan semua surat-suratnya lengkap, SIM B1 nya bapakku itu (bapakku hanya punya SIM B1, yaitu SIM khusus untuk mengemudikan truk), ada,STNK nya ada, surat keterangan dari dinas peternakan lengkap,surat keterangan kepemilikan kerbau itu ada. Jadi apalagi?Yah uang…

Tapi,bapakku selalu bisa lolos. Kalau cerdiknya sudah tak mempan, maka dengan tidak segan-segan, bapakku akan menghajarnya. Dia tidak akan mau mengalah dan memberikan uang pada aparat itu. Rugi!Kata bapakku.

Kegigihan bapakku dalam bekerja keras itu,sangat membuat aku terharu sekaligus bangga. Dia tidak mau menggaji supir untuk mengemudikan truk yang berisi muatan kerbau itu. Kata dia, gaji yang untuk supir itu, sudah bisa dia pergunakan tambahan dana menyekolahkan kami. Kalau bapakku sedang tidak ada pekerjaan, atau dia sedang tidak ada uang, dia akan dengan suka rela menjadi supir untuk barang-barang orang, yang kebetulan datang ke pasar Balige di hari Jumatnya, tapi tidak punya kendaraan untuk mengangkut kembali barang-barangnya, misalnya ke Tarutung. Yang seperti ini, dinamakan tarik sewa, lumayan untuk nambah uang sakunya. Sedikitpun tidak ada kesombongan dalam diri bapakku. Dan dia selalu mengatakan itu, tanda dirim, boto magom, asa dapotmu ngolum2 (apa yah dalam bahasa Indonesia nya,tak tau aku). Intinya, aku harus selalu rendah hati (bukan rendah diri, dan selalu ingat asalku darimana, supaya aku bisa mendapatkan apa yg aku cita2kan dalam hidupku). Bapakku selalu katakan kepada kami,bahwa kami hanyalah orang ”miskin” yang punya semangat dan Tuhan. Kata-kata itu tidak jadi membuat aku rendah diri, malah sebaliknya. Jadi motivator untuk membuat aku semangat dan maju.

Mauliate da bapa. Terima kasih Tuhan kau telah memberikan bapak yang baik untukku.

Tuhan, panjangkan bapakku si rambo berhati rinto itu…..

Update per tanggal 7 Januari 2008

Disini, aku tambahkan gambar truk kesayangan bapakku itu,dan juga kebanggaan kami sekeluarga, aku menjepretnya sewaktu kami berziarah ke kampung ku di Pagar Sinondi.

Klik aja di gambarnya, supaya gambar aslinya tampil, aku kurang pinter meng crop nya, jd kecil lah, soalnya gede dikit gambarnya pecah🙂

dsc00094.jpg

2 Tanggapan to “Terima kasih Tuhan”

  1. Biar gimana pun jelek, ganteng, ato mungkin rada jahat, bapak kandung kita itu harus kita kasihi. Karena dialah kita ada oleh kehendak Tuhan. Salut buat dongan sabutuhaku itu [teman semarga].

    Jadi, mudiklah dulu Uda, ya, boru… baik-baiklah kau di meja 19 itu… Selamat Natal 2007 & Tahun Baru 2008, juga buat pembaca blogmu ini… Titip salam juga buat lae Suhunan, ate…!

    Partalitoruan
    Mauliate bapa. Selamat Hari Natal 2007 dan Tahun Baru 2008 juga untuk uda dan keluarga kita di Medan. Doakan biar aku juga bisa mudik ya uda.
    Horas-horas ma uda di pardalanan.Ok uda,nanti kusampaikan.Sampai ketemu tahun depan, uda.
    Horas

  2. Kalau kelak aku punya anak perempuan,
    aku akan menyebut diriku bapak paling berbahagia di dunia kalau putriku memberikan seperseribu saja
    dari cintanya Desy Hutabarat buat bapaknya…

    nice story, sister. mauliate

    Partalitoruan
    Ah kau bang berlebihan kalipun kau ah
    Horas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: