Jakarta oh Jakarta….

“Jakarta kebanjiran…di Bogor angin rebut..”, penggalan lagu Alm.Benyamin.S yang diberi judul “Kompor Meleduk”, entah apa alasan almarhum dulu membuat judul lagu itu. Tapi yang jelas, sekarang lagu itu benar-benar kejadian. Kepanikan orang-orang menghadapi banjir, tak kalah hebohnya disbanding dengan kehebohan mengalami kompor meleduk.

Entah sudah sejak tahun berapa banjir tahunan dan banjir lima tahunan di ibu kota negeri ini, menjadi suatu hal yang “biasa”, di huta namian, dang hea didok na biasa bah aek nagodang, luar biasa dope i. Alai, molo tao na balga ninna, adong ma di hamian.

Sepertinya sudah menjadi kebal dengan banjir, baik warganya maupun pemerintahnya (apalagi), mereka tidak merasakan banjir seperti yg dirasakan orang2 kecil yang tinggal di daerah banjir. Walaupun banjir lima tahunan di Februari 2007 kemarin, cukup memberi pelajaran kepada semua kalangan. Gimana ngga, tanpa pandang bulu, air berwarna coklat itu menembus semua tempat di Jakarta ini. Mau dia setinggi apapun posisinya, air malah lebih tinggi (bah!). tapi, sepertinya banjir tahun ini sangat dahsyat juga. Gimana ngga, di jantung kota, seperti di Jl. Sudirman, Thamrin, Salemba dan sekitarnya, banjir rata2 sepinggang. Istana presiden dan wakil presiden aja kena banjir. Bah jd, aha nama na aman hape? Bah lamu Cawang dan sekitarnya ma, daga nunga hubayanghon nuaeng I, beha ma au anon mulak hamuna? Sian dia nama iba akeh? Bah tahe.

Melihat seringnya banjir terjadi di ibukota ini, maka udah harusnya warga ibu kota (termasuk saya, yang kebetulan cari makan disini), udah harus pintar menghindari supaya tidak sedahsyat ini. Pengalaman banjir harusnya sudah melatih kita untuk peka dan mencari sumbernya dari mana. Ga usah cape2 mendemo pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini, ga akan dikerjakan, karena proyek ini tak ada uangnya kog. Paling-paling kalo kebanjiran, maka warga mengungsi, datangkan bantuan seadanya, setelah air agak surut, warga kembali ke rumah masing-masing, dan benahi rumah masing-masing, setelah itu, kembali lagi ber aktivitas seperti sebelumnya. Bukankah dengan reaksi seperti ini, banjir sudah dianggap biasa? Kalo memang kita sudah bisa membiasakan diri dengan keadaan tidak biasa ini, berarti kita tidak usah melakukan perbaikan lagi. Iya toh?

Mungkin bisa saja dimulai dari diri sendiri, dari hal-hal kecil. Misalnya, tidak ikut2an membuang sampah di sungai, tidak ikutan menebang pohon. Untuk yg pemerintah, tidak ikutan menyetujui pembangunan busway, tidak menghilangkan daerah resapan, tidak membangun yg ga penting. Seperti misalnya, lapangan golf. Masih kurang kah udah segitu banyaknya lapangan golf bertebaran di Jakarta ini?

Yg lebih ngenesnya lagi, melihat kenyataan di daerah Jakarta Utara sana. Di daerah Muara Karang, daerah penduduk sekitar sudah mendadak jadi sungai pada saat banjir. Sementara rumah-rumah elit yg ada tidak jauh dari situ, tidak apa2. kog bisa?

Kog bisa mereka tenang tidur di rumahnya, sementara masyarakat sekitar sudah kelimpungan mengahadapi banjir ini? Sudah matikah nurani itu? Dengan membayar kan sejumlah uang untuk membeli rumah disana (tentu mereka mau beli dengan janji/ iklan yang bertuliskan “belilah, hunian eksklusif dan terbatas dengan hanya membayarkan sejumlah sekian-sekian) dan bebas banjir. Akses dekat kemana2.

Entah sampe kapan Jakarta ini terbiasa dengan keadaan ini. Kata orang, kalo udah orang Jakarta sejati, kalau banjir tak akan dia mengeluh lagi. Bah kolok kek gitunya syarat menjadi warga Jakarta, tak orang Jakarta sejati pun aku tak apa-apa bah. Dang biasa di au na masa on.

3 Tanggapan to “Jakarta oh Jakarta….”

  1. Farida Simanjuntak Says:

    Banjir………….
    Biasa bagi sebagian orang tapi luar biasa bagi kita…
    Sudaah sepatutnya kita makin menyadari dan mencintai bumi yang makin tua ini…

    Partalitoruan
    Selama orang2 mengganggap banjir itu sebagai suatu hal yang biasa aja, ga akan tergerak tuh hati mereka untuk mencari sebuah solusinya. Betul eda, bumi makin tua..Save the earth

  2. Walaupun saya tidak sering meninggalkan pesan dan kesan, tapi saya selalu setia untuk mengunjungi blogmu ito…! Sukse selalu ya …?
    Shalom….!

    Partalitoruan
    Horas ito..mauliate ito, sedikitpun dan sesekali pun tapi sangat berkesan untukku ini ito
    Shalom, btw nunga sorang paraman/maen i?

  3. Ito, Paraman/maennya belum sorang, kita doakan supaya pada waktunya nanti dapat lahir dengan sehat dan menjadi manusia yang taat kepada orangtua dan takut akan Tuhan. Terima kasih atas doanya ya? Sukses selalu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: