Toba Dream Dialogue, 1 Maret 2008

Harusnya, sudah dari dua hari yang lalu aku posting tulisan ini. Tapi karena aku sakit dan tidak masuk kantor, jadilah hari ini aku posting tulisan ini. Ini cerita tentang Toba Dream Coffee Morning sesi ke II, yang sekarang berubah nama jadi Toba Dream Dialogue. Hal ini terhadi karena ternyata setelah kita review dan survey kecil2an di kalangan kita, kaum muda batak itu masih sangat sulit untuk menerapkan bangun pagi di weekend, sepertinya, mata itu sudah di setting untuk bangun lebih siang di weekend. Sementara, diskusi ini kita buatkan sebagai forum diskusi lintas generasi, terutama dengan generasi muda nya.

Sabtu, 1 Maret 2008 sepertinya kemacetan merajalela di semua sudut jalanan, terutama di Soepomo, yang notabene melewati Balai Sudirman (yang konon katanya sebagai salah satu gedung pertemuan mahal di Jakarta), walaupun judulnya itu sebagai salah satu gedung pertemuan yang mahal, tak berpengaruh tuh di jaman susah ini, karena masih banyak aja orang yang menggelar hajatannya di tempat ini. Sampe lelah mengumpat2 melewati tempat ini. Akhirnya, mepet sekali tibanya disana, jam 13.45 (15 menit sebelum acara dimulai). Dan sepertinya bukan aku saja yang mengalami kemacetan itu, termasuk para narasumber juga mengalami nya. Jadilah dimulainya agak molor dari waktu yang kita tentukan sebelumnya, tapi tidak mempengaruhi semangat para audience yang hadir pada siang hari itu. Tetap bersemangat dan bersabar hingga akhir acara.

Untuk dialog kali ini, mengusung tema, Penyelamatan Danau Toba, “Difficult but Posible” dengan pembicara nya, Bungaran Saragih (mantan menteri pertanian di era Megawati dan Gus Dur), serta Cosmas Batubara (menteri di era Suharto). Dengan moderatornya, Marudut Pasaribu dan MC :Natasha Siahaan. Serta seorang tamu istimewa yang khusus dan langsung didatangkan dari Parapat, seorang pahlawan lingkungan dan pahlawan pariwisata, Umar Manik (aku memanggilnya dengan sebutan ompung, karena ompung dari bapak, boru Pasaribu).

Dirasa, kali ini, tema ini tepat pas dengan suasana yang terjadi sekarang ini. Dengan tercoretnya Danau Toba dari prioritas tujuan wisatawan dalam Visit Indonesian Year 2008 dan di tengah-tengah perjuangan Forum Pusuk Buhit, mempertahankan 2250 hektar hutan tele yang telah disetujui oleh Bupati Samosir untuk dijadikan kebun bunga anggrek raksasa. Kalau sampai ini terjadi, maka akan terhadi ketidak seimbangan ekosistem di Danau Toba dan sekitarnya.

Bukan hanya pembicara saja yang memparkan ide dan pemikirannya. Tapi dari beberapa audience juga memberikan pendapat yang aku fakir sangat bagus. Entah kenapa, aku selalu terkesan dengan cara berbicara seorang Cornel Simbolon. Dari segi penyampaian, bobot idenya, karismanya, ah semuanya. Dia sangat bersahaja dan rendah hati. Itu sangat terlihat ada padanya. Dia menuturkan ide, untuk memanggil Bupati Samosir untuk coba memaparkan kepada kita, apa alasan dia menyetujui investor korea itu boleh membabat hutan tele untuk kemudian dikonversikan jadi kebun bunga. Dengan demikian, kita lebih tau untuk bersikap selanjutnya. Ada juga seorang tulang bermarga Sitanggang (aku lupa namanya), yang dengan cerdasnya memaparkan ide dan pendapat, kenapa beliau menentang kehadiran investor korea di tanah Samosir. Diam –diam aku jadi semakin kagum dengan putra-putra Samosir itu. Samosir yang katanya daerah miskin itu, yang katanya tidak bisa diandalkan sebagai daerah pertanian itu, bisa menghasilkan putra daerah yang sangat2 hebat.

Back to dialog, dari kedua pembicara yang diundang kali ini, yang kebetulan berasal dari daerah Simalungun, membicarakan bagaimana memperihatinkannya Danau Toba (dan sekitarnya) sebagai salah satu daerah tujuan wisata saat ini. Seperti yang dikatakan Cosmas Batubara, bahwa dulu tahun 50-an ketika beliau masih bermukim di sekitar Danau Toba, sepulang sekolah atau sewaktu istirahat, dia masih bisa bermain dan berenang di Danau Toba, bahkan langsung bisa minum dari danau. Sekarang? Jangankan minum, mandi aja orang sudah mikir-mikir, karena katanya konon di daerah Parapat, mandi di Danau Toba, sudah membuat badan gatal-gatal. Kalau dari seorang Bungaran Saragih, si professor ini lebih menegaskan bahwa daerah di sekitar Danau Toba tidak pantas dijadikan sebagai daerah pertanian, tapi sebagai daerah pariwisata lah pantasnya. Dikatakan, bahwa secara makro, pemandangan di Danau Toba itu hingga saat ini, masih mempesona dan memukau. Tapi, ketika kita mulai menilik secara mikro, dengan kata lain, ke masyarakatnya, lebih dekat, akan terlihatlah kemiskinan dan kebodohan yang sangat. Beliau lebih menitik beratkan bagaimana caranya untuk memerangi ini terlebih dahulu, supaya wisatawan tidak enggan berkunjung kesana. Kemudian, perlu juga dikembangkan untuk aspek pendidikannya. Dengan mendirikan sekolah-sekolah bermutu di bonapasogit, dan minimal tersedia satu guru yang fasih berbahasa Inggris di tiap daerah wisata yang ada di sekitar Danau Toba, karena hal ini sangat membantu wisatawan mancanegara yang berkunjung kesana, ujar putra Haranggaol yang pernah memimpin sidang ILO itu.

Umar Manik, pada saat videonya itu ditayangkan, bagaiman kepolosan hatinya, perjuangannya seorang diri mempertahankan Taman Monyet Sibaganding, Parapat dari tahun 1984 hingga saat ini. Tanpa sedikitpun bantuan dari pemerintah setempat ataupun pusat, bahkan yang ada beberapa kali dia diusir dari tempat itu. Mungkin setelah terlihat aspek bisnis dan hepengnya, mulai lah kapitalis-kapitalis itu ingin menguasai daerah itu. Dasar kanibal!!!!

Khusus ulasan tentang ompung Manik, aku bahas di tulisan yang berbeda.

Beberapa orang mungkin bertanya, kenapa dari sekian banyak orang Batak yang duduk di kursi pemerintahan, bahkan dekat dengan presiden, tidak bisa “menggagalkan” pencoretan Danau Toba dari salah satu tujuan wisata di VIY 2008. Sedikit jawaban dari Cosmas Batubara (yang konon langsung beliau dapat dari Menteri Pariwisata,Jero Waccik. Pak Jero Waccik berkata bahwa bukan dialah yang mencoret Danau Toba dari list daerah tujuan wisata VIY 2008, tapi masyarakat dan pemerintah setempatlah yang membuat terjadi hal demikian. Dimana, pemerintah tidak mempunyai rencana jangka panjang terhadap Danau Toba, dan tidak mempunyai anggaran khusus untuk itu. Jauh lebih unggul,saudara kita Sumatera Barat dalam hal ini. Jadilah Danau Toba tercoret dari list tujuan wisata. Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat dan pemerintah setempat, supaya kejadian serupa tidak terjadi lagi. Dan semoga forum pangaranto yang sudah terbentuk sekarang ini, bisa bermanfaat dan bisa melakukan suatu perubahan untuk bonapasogit.

Di 3 Maret 2008 kemarin, langkah kecil itu sudah mulai. Semoga berjuta langkah yang akan ditapaki, semakin ke depan semakin baik, Semoga….

6 Tanggapan to “Toba Dream Dialogue, 1 Maret 2008”

  1. numpang berita ya ………!!

    Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen Cornel Simbolon menyatakan keprihatinan yang mendalam, karena ratusan meter hutan perawan di Tele, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, telah ditebas habis baru-baru ini. Selain mencemaskan resiko bencana longsor, apabila areal hutan seluas 2.250 hektar di daerah itu habis dibabat, Cornel juga mensinyalir bahwa investor cuma ingin menyikat kayu disana.

    Hal itu dikemukakan jenderal kelahiran Pangururan, Samosir ini dalam acara diskusi TobaDream Dialogue, Sabtu sore 91/3) di TobaDream Cafe, Jakarta. Cornel hadir di sana sebagai peserta, sedangkangkan pembicara diskusi dengan tema “Penyelamatan Danau Toba : Difficuit but Possible“‘ itu adalah Cosmas Batubara dan Bungaran Saragih. Keduanya bekas menteri.

    Pernyataan keprihatinan itu dilontarkan Cornel Simbolon pada sesi tanya-jawab. Sebenarnya yang jadi sorotan saat itu adalah upaya penyelamatan Danau Toba, terutama dari aspek pariwisata dan lingkungan. Tapi Cornel tidak mengajukan pertanyaan, malah langsung meminta perhatian dan kepedulian hadirin terhadap pembabatan hutan ynag sedang berlangsung di Tele.

    “Memang benar seperti dikatakan Lae (Suhunan) Situmorang tadi, hutan di Tele sedang terancam sekarang ini.Tidak tanggung-tanggung, hutan yang akan ditebang di kawasan tangkapan air itu mencapai 2.260 hektar. Katanya mau dibuat kebun bunga. Katanya bunganya untuk diskspor,”papar jenderal yang cinta lingkungan itu.

    “Kita sangat prihatin karena ratusan meter hutan perawan di sana sudah dibabat habis, katanya buat jalan ke areal yang akan diubah jadi kebun bunga,’tambahnya.

    “Tele itu adalah daerah tangkapan air, dan seperti tadi dijelaskan Pak Bungaran, daerah itu sangat ringkih dan rawan longsor,”tutur Cornel sambil menegaskan,”Saya setuju dengan apa yang dikatakan Lae Situmorang, saya mengerti apa yang dikuatirkannya, bahwa besar kemungkinan rencana membuat kebun bunga di bekas areal hutan seluas 2.250 hektar itu hanya kedok. “

    Yang disitir Cornel adalah ucapan Suhunan Situmorang di awal acara, saat menyampaikan kata sambutan selaku Ketua Steering Commitee TobaDream Dialogue. Suhunan membeberkan kepada hadirin mengenai pembabatan hutan di Tele, termasuk sinyalemennya bahwa target utama investor PT EJS dari Korse adalah menyikat kayu di hutan alam itu.

    “Memang sudah banyak kejadian seperti itu, “ujar Wakasad Cornel Simbolon. “Hutan dibabat, katanya mau buat kebun kelapa sawit atau kebun bunga. Tapi, setelah hutan dibabat dan kayunya dijual, investornya kabur. Makanya kita harus cermati terus perkembangan di Tele ini. Itu adalah daerah tangkapan air, sebagian masih hutan perawan. Kenapa itu harus dibabat ?”

    “Makanya kita harus selamatkan hutan Tele. Kalau perlu kita panggil Bupati Samosir Mangindar Simbolon ke Jakarta, untuk menjelaskan kebijakannya membabat hutan perawan di sana, “tegas putra Samosir yang kenal liku-liku kawasan Tele itu.

    Hutan lindung

    Letjen Cornel Simbolon, yang bicara berdasarkan hasil pengecekan terbaru di lapangan, dengan blak-blakan menyatakan kurang yakin mengenai kelayakan investasi kebun bunga di Tele. “Mau diangkut pakai apa bunga-bunga itu ke Medan ? Dan kalaupun bisa, biaya transportasinya pasti sangat mahal. Pokoknya sangat meragukan, sehingga lebih masuk akal kalau investor hanya mengincar kayunya,”ujarnya.

    Menurut Cornel, selain penyelamatan hutan Tele, agenda sangat penting yang harus segera dilakukan adalah menentukan peta hutan di Samosir. “Perlu segera dilakukan maping untuk menetapkan yang mana hutan lindung, yang mana hutan ulayat. Di Samosir belum jelas maping seperti itu.”tandasnya.

    Dalam kesempatan itu Cornel Simbolon menyatakan sangat menghargai dan mendukung program konservasi yang akan dikerjakan Komunitas TobaDream. Besok pagi (9/2) rombongan Komunitas TobaDream akan terbang ke Medan, untuk selanjutnya pada Senin 3 Maret 2008, tepat pukul 3, akan menanam pohon pada areal seluas 2 hektar di desa Martoba , Kecamatan Sidihoni, Kabupaten Samosir.

    “Sangat saya hargai dan dukung program penanaman pohon yang akan dilaksanakan Komunitas TobaDream. Tapi perlu saya pesankan, kalian harus pentingkan untuk menjalin kerjasama dengan penduduk setempat. Jangan asal nanam pohon, tapi penduduk di sana hanya jadi penonton, akan sia-sia,”kata Cornel.

  2. Terima kasih u/ laporan pandangan matanya, Ito! Saya sebenarnya pengen datang, tapi time conflicting dengan acara lain, so sudah berharap-harap si Ito boru Hutabarat akan menyajikan laporannya.

    Mengagetkan dan sedih mengetahui Danau Toba yang memiliki sejuta pesona keindahan alam tidak masuk dalam daftar tujuan wisata Visit Indonesia Year 2008. Pasti ada yang salah! Selain pemerintah kabupaten-kabupaten di seputar Danau Toba mungkin tidak peduli dengan potensi wisata alam, cuma mau menggerus kekayaan alam dengan cara menggunduli hutan-hutan tangkapan air di seputar Danau Toba. Kalau bukit-bukit ini gundul, bahaya longsor akan senantiasa menghantui. Bila demikian, logikanya akan lebih sulit lagi untuk ‘menjual’ keindahan alam Danau Toba. Turis mana yang mau berkunjung ke daerah yang rawan longsor dan banjir, serta kering kerontang dan panas???

    Sudah waktunya mungkin bila salah satu Key Performance Indocators (KPI) bagi bupati-bupati di seputar Danau Toba adalah jumlah wisatawan yang berkunjung ke daerahnya masing-masing.

    Untuk saudara-saudaraku yang tinggal di seputar Danau Toba, pilihlah orang-orang yang punya integritas dan hati dalam memimpin, bukan yang mengedepankan kepentingan sesaat dan yang menghancurkan ekosistem. Pilihlah mereka yang peduli dengan keharmonisan alam, karena cuma butuh waktu sedikit untuk menghancurkan alam tapi butuh waktu yang sangat panjang untuk pemulihannya.

  3. Humbang Hasundutan Says:

    …pilihlah orang-orang yang punya integritas dan hati dalam memimpin, bukan yang mengedepankan kepentingan sesaat…

    Pak Sibarani, saat kampanye pemilihan semua kandidat adalah kandidat unggulan, pengemban ampera yang setia, dll., dll.

    Selama hukum masih nakal sekali, setinggi apapun integritas kandidat itu, sebagus apapun program yang disodorkan, sude i marmuara tu “mangahut tu diri” do.

  4. parlappotuaktakkasan Says:

    Pendidikan suatu modal untuk meraih masa depan yang lebih sukses disamping kemauan. Jangan lupa berdoa dan bekerja untuk meraih masa depan kita yang lebih indah dan ceria.

  5. agust hutabarat Says:

    Adalah sebuah kebodohan menciptakan sebuah keindahan tanpa pemikiran terhadap keseimbangan ekosistem. Bukankah sebuah kesalahan besar jika seandainya hutan di Tele di tebas dan digantikan dengan taman anggrek raksasa. Memang secara estetisnya taman anggrek lebih indah dari hutan belantara, tetapi kemampuan akar dari anggrek tidak bisa menyimpan cadangan air yang nota bene adalah sumber air bagi danau toba.

    Tentang pendapat Pak Jero Wacik mengenai ketidak ikutan danau Toba dalam Visit Indonesia Year 2008, sangat setuju. Bukan bertujuan menghasut atau apalah tentang itu. Tetapi kita harus melihat diri kita dulu. Kerusakan lingkungan dan menurunnya kualitas air danau Toba menjadi salah satu alasan pemerintah mencoret danau Toba dari Visit Indonesia Year 2008. Masyarakat menjadi pelaku utama dalam pengembangan kawasan danau toba mestinya mulai membuka pikiran tentang keberadaan danau toba saat ini. Apalagi danau Toba akan direkomendasikan sebagai salah satu keajaiban dunia. Apa yang ajaib jika kita tidak membenahinya mulai dari sekarang.

    Mungkin aku hanya orang Tarutung yang tidak berhubungan langsung dengan danau Toba. Tetapi sebagai seorang Batak, danau Toba adalah jati diri bangsa batak. Tanggung jawab kita bersama tidak hanya masyarakat samosir dan sekitarnya. Tetapi semua orang yang memiliki marga batak wajib ikut serta.

  6. Aku berasal dari Sibolga namun saya juga perduli sekali dengan kondisi danau Toba. Seperti pak August Hutabarat katakan bahwa danau Toba adalah jati diri orang Batak; saya setuju benar dengan pernyataannya itu.

    Rencana membabat hutan alami dan menggantinya menjadi perkebunan anggrek raksasa adalah suatu hal yang akan pemicu bencana alam didaerah itu. Sudah lama saya dengar bahwa permukaan air didanau Toba setiap tahunnya turun beberapa inci, itu sebelum hutannya dibabat. Kalau dibabat bisa bisa kering kerontanglah danau Toba yang kita banggakan itu dan berubah nama menjadi gurun pasir Toba.

    Mohon kearifan para pemimpin didaerah untuk berpikir arif dan bijaksana jangan buru buru silau melihat uang yang yang akan di invest yang belum tentu kebenarannya.

    Pikirkan dan ingatlah nasib anakcucu kita yang akan menderita didaerah itu akibat keteledoran oppung mereka.

    Horas jala gabe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: