Umar Manik, sang pawang Monyet dari Parapat

Jumat, 2 Maret 2008, pertama sekali aku bertemu dengan seorang yang disebut-sebut bang Charly Silaban sebagai orang hebat, yaitu Umar Manik sang pawang monyet dari Sibaganding, Parapat. Kami bertemu di Lapo batak, Toba Tabo, aku kesana untuk kepentingan rapat terakhir Toba Dream Dialogue keesokan harinya. Kesan yang pertama sekali aku dapat ketika bersalaman dan berbicara dengan ompung itu, adalah karisma yang luar biasa, rendah hati, apa adanya, jujur dan polos. Ah, sungguh mengagumkan dia itu, apalagi setelah aku berkesempatan tau sedikit soal kisah hidupnya.

Umar Mani, mulai mendedikasikan hidupnya untuk mengurus monyet-monyet yang bermukim di hutan sekitar Sibaganding,Parapat di tahun 1984. Bermula dari penderitaan yang dialaminya, karena di PHK dari Hotel Patra Jasa, Parapat. Sebelumnya adalah Hotel Pertamina, kemudian diambil alih oleh Patra Jasa pada saat itu, keluarlah peraturan dari manajemen baru, yang mengatakan bahwa untuk menjadi staff atau karyawan disana, harus berijazah minimal SMA. Sedangkan ompung ini, latar belakang pendidikannya hanya lah sampai kelas 3 SD, dia pun menjadi salah satu korban PHK dan mendapatkan pesangon 3bulan gaji.

Karena daerah Parapat dan sekitarnya adalah kepunyaan Raja Sinaga, dan dia tidak bisa punya sanak saudara disana, maka dia pun pergi ke hutan di atas Sibaganding, disanalah dia mulai hidupnya, dengan bertani, menanam tanam-tanaman yang nantinya bisa dia pakai menyambung hidup. Pada saat dia mencoba menanam jelok atau labu kuning, datanglah segerombolan monyet-monyet merusak tanaman nya itu. Dia pun mulai mengusir2nya dengan mengketapel. Karena, perbuatannya yang mengusir monyet-monyet itu, dia pun ditegur oleh penghuni hutan disana, awalnya datang melalui mimpi. Kurang lebih, ompung yang menghuni tempat itu berkata “kenapa kau usir-usir i monyet itu? Manusia ada yang tinggal di kampung, ada yang dikota, dan merekalah penghuni tempat ini. Jangan mengusir, dan jangan bermusuhan dengan mereka, berdamailah dengan mereka.” Dari sana, mulai lah ompung Manik mendapat bimbingan bagaimana dia bisa bergaul dengan penghuni-penguhuni disana. Mulai dari monyet sampai binatang yang lain juga. Di tahun 1986 ompung itu, sudah mulai bisa mendidik dan bergaul dengan akrab dengan monyet-monyet yang ada disana. Di tahun yang sama, ompung Manik mendapatkan bimbingan untuk membuat semacam sangkakala sederhana dari tanduk kerbau yang nantinya dipakai untuk memanggil monyet-monyet itu untuk berkumpul. Dan setiap terompet tanduk itu ditiup, anjing pun ikut mangandung i. dan tidak lama, pemandangan mengagumkan pun mulai terlihat, gerombolan monyet-monyetpun turun dari hutan Sibaganding. Di tahun 1989 mulailah tempat ini dikunjungi wisatawan, baik mancanegara maupun turis-turis lokal. Dimana pada masa itu, Danau Toba juga masih menjadi primadona daerah tujuan wisata. Pernah suatu waktu, tempat itu dikunjungi turis amat ramai, bisa sampai 150-an kunjungan dalam satu hari, sampai-sampai makan pun tak sempat.

Sudah 24 tahun ompung Manik mengabdikan dirinya di tempat itu, mengabdikan diri (bahkan keluarganya) untuk mengurus keberadaan monyet-monyet itu. Selama itu pula, tidak jarang ompung itu menerima perlakuan tidak baik dari pemerintah dan masyarakat setempat. Pernah suatu waktu, ompung Manik dicurigai menanam ganja disana. Bermula dari kecurigaan warga yang melihat pick up wara-wiri daerah itu, mereka mencurigai pick up itu mengangkut ganja keluar-masuk sana. Kemudian ompung itupun didatangi oleh Polisi setempat, ternyata ketauanlah bahwa ternyata pick up itu bertujuan untuk mengantarkan pisang-pisang balanjo monyet –monyet yang ada disana. Setelah tau itu malah polisi itupun berterima kasih karena sudah bersedia menjaga monyet-monyet dan hutan disana.

Tidak hanya itu, setelah melihat tempat ini sangat potensial sebagai penghasil rupiah, oknum pemerintah setempat dengan segerombolan kamtib dan jajarannya, mengusir ompung Manik dari tempat tersebut. Memaksa rumahnya dibongkar paksa saat itu juga, bahkan tempat berteduhnya dengan keluarga itu, tidak layak disebut sebagai rumah. Karena hanya berlantai tanah, beratapkan potongan-potongan drum bekas, dan berdinding tapas. Bagaimana mungkin kurang ajar itu membongkar paksa, untuk kemudian merajai tempat itu, mengembangbiakkan tempat itu dan kemudian monyet-monyetnya dijual ke luar negeri? Sungguh biadab! Dan untung Tuhan tidak mewujudkan maksud mereka itu. Tuhan pun mengirimkan teman yang memberi dukungan untuk ompung Manik, datang dari Walhi, LSM-LSM yang membela hak asasi manusia dan mencintai lingkungan, yang bersama-sama membuat petisi ke pemerintah terkait supaya tidak mengusik keberadaan ompung ini di tempat tersebut. Dan momen bersejarah itupun ditorehkan dalam bentuk tattoo di badannya. Ada banyak tattto di tubuh ompung itu, semuanya itu tidak asal dibuat, tapi semua itu ada sejarah dan momen khususnya. Aku terkesan dengan tattoo yang letaknya di punggung, yang isinya, “lebih baik aku berpisah dengan anak istriku daripada dengan monyet-monyetku”, merinding aku tau itu. Sebegitu cintanya dan totalitas ompung itu demi monyet-monyet itu. Dan itu tidak main-main karena ompung ini mengenali monyet-monyet disana, padahal sepintas raut wajah mereka sama semua. Bahka ada beberapa monyet yang dinamai, seperti Bruno, Mike Tyson, si Duda dan banyak lagi. Biasanya penamaan ini diberikan untuk kepala suku masing-masing monyet itu. Dan biasanya, kalau satu ekor monyet tidak turun sampai seminggu, bisa dipastikan kalau monyet itu sudah mati, tapi ketika bangkainya dicari, tidak akan ditemukan, karena dia akan mengubur sendiri. Kecuali untuk monyet yang mati berkelahi, maka bangkainya akan dikubur ompung Manik dengan baik.

Aku banyak menemui orang yang mengalami penderitaan dan kesedihan dalam hidupnya. Dan kadang-kadang penyampaiannya hiperbola, jadi terkesan di dramatisir malah membuat kita yang mendengar jadi males, bukannya malah bersimpati. Berbeda dengan ompung ini, dia menuturkan hidupnya dengan apa adanya, mengalir begitu saja, tidak dilebih-lebihkan yang membuat orang yang mendengar sangat terkesan, simpati dan empati. Raut wajahnya yang begitu tulus, ikhlas dan apa adanya.

Iseng-iseng aku bertanya, apakah ompung itu betah di Jakarta atau tidak. Dengan senyuman dia jawab “hera naso i Jakarta do au hueting nuaeng ito, Alana marhata Batak i do sude na dison i, sipanganon songon sangsang pe apala pas hera na di hutai do huhilala, adong muse bulung ni gadong na, bah lamu sabas ma ito huhilala”. Tersenyum-senyum aku dengar jawaban ompung itu. Apalagi setelah aku tau, bahwa ini lah kali pertama untuk ompung itu, naik pesawat, pertama sekali menginjakkan kakinya di ibukota negara ini. Dan pertama kali pulak bersepatu, dia tak pernah pake sepatu sebelumnya, kecuali sewaktu kerja dulu, mungkin karena sudah lama tidak pakai sepatu, jadi ompung itu merasa seperti diikat. Kesan menghargai sangat kelihatan dalam diri ompung Manik. Sampai dia meminjam baju safari ringan menantunya, karena dia ingin menghargai orang yang mengundang dan yang punya hajatan. Cara berfikir yang bagus, orang kota aja udah jarang punya cara berfikir seperti ini.

Aku berjanji saat aku pulang nanti, akan aku singgahkan untuk sekedar melihat ompung Manik, hula-hula ni bapa i. karena, aku malu sering kali aku lewati tempat itu kalo aku dari arah Medan ke Balige, tapi sedikitpun aku tak tau ada tempat kek gitu. Malu aku bah. Terlebih terhadap kecintaan ompung ini dengan lingkungan, ketika dia mendengar rencana Toba Dream untuk melakukan penanaman pohon di daerah Samosir, dia meminta untuk dilibatkan, dengan cara dia diberikan bibit hariara, supaya dia tanami. Karena dia tau pohon ini mampu menahan batu-batuan dan tanah longsor. Karena masalah ini lah yang paling sering terjadi di sepanjang jalan dari Siantar ke Parapat, jadi supaya terhindar dari bencana tanah longsor, ini perlu dilakukan. Karena kecintaan terhadap lingkungan juga, ompung ini pernah disebut narittik. Karena tidak sedikit yang dia usir sambil mengusung golok, karena orang-orang itu hendak memburu monyet ataupun mencuri kayu dari hutan disana.

Tapi belum terlambat memperbaikinya, ayo kita menjadi wisatawan dan sekaligus memperbaiki huta kita. Karena seperti yang dikatakan ompung Manik, itu bukan miliknya sendiri, mari kita lestarikan itu semua, demi warisan kelak untuk anak cucu.

12 Tanggapan to “Umar Manik, sang pawang Monyet dari Parapat”

  1. Farida Simanjuntak Says:

    Wah, eda… aku jadi ingat perpisahan kelas 6 (hampir 14 tahun yang lalu) kami jalan-jalan ke Kebun Binatang Siantar dan Sibaganding. Itulah salah satu pengalamanku yang tidak dapat kulupakan. Apalagi saat amang Manik itu meniup sangkakalanya, monyet-monyet berhamburan. Tapi ada pengalaman paling memalukan yang kualami saat itu, sedang asyik berdiri di dekat amang itu yang sedang meniup sangkakala (apala pas di lambung na) Tiba-tiba 1 monyet hitam besar, marah sama dan mau menangkapku, spontan aku teriak ketakutan, loncat dan mau lari. Tapi karena tanahnya rada nurun dan licin (habis hujan) maka aku mendarat dengan sukses di tanah. Kebayang dong malunya…Semua orang kaget dan ga lama ketawa ngakak. Dang tarlupahon au eda, posisi madabu ki nga songon marlange gaya dada..
    :-0-:
    Tapi jauh dari lubuk hatiku, salut dan hormat buat amang itu.
    Aku selalu berharap suatu saat nanti bisa ke sana lagi… (Tapi ga mau di jahili monyetnya lagi…)

    Partalitoruan
    Nga hubayanghon i eda, tipikal jolma na sai pengen tau, songonon ma attong ateh…?Rap hita tusi da eda😉

  2. permisi numpang berita dulu ya !!!!!
    [penting soalnya ini]

    Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen Cornel Simbolon menyatakan keprihatinan yang mendalam, karena ratusan meter hutan perawan di Tele, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, telah ditebas habis baru-baru ini. Selain mencemaskan resiko bencana longsor, apabila areal hutan seluas 2.250 hektar di daerah itu habis dibabat, Cornel juga mensinyalir bahwa investor cuma ingin menyikat kayu disana.

    Hal itu dikemukakan jenderal kelahiran Pangururan, Samosir ini dalam acara diskusi TobaDream Dialogue, Sabtu sore 91/3) di TobaDream Cafe, Jakarta. Cornel hadir di sana sebagai peserta, sedangkangkan pembicara diskusi dengan tema “Penyelamatan Danau Toba : Difficuit but Possible“‘ itu adalah Cosmas Batubara dan Bungaran Saragih. Keduanya bekas menteri.

    Pernyataan keprihatinan itu dilontarkan Cornel Simbolon pada sesi tanya-jawab. Sebenarnya yang jadi sorotan saat itu adalah upaya penyelamatan Danau Toba, terutama dari aspek pariwisata dan lingkungan. Tapi Cornel tidak mengajukan pertanyaan, malah langsung meminta perhatian dan kepedulian hadirin terhadap pembabatan hutan ynag sedang berlangsung di Tele.

    “Memang benar seperti dikatakan Lae (Suhunan) Situmorang tadi, hutan di Tele sedang terancam sekarang ini.Tidak tanggung-tanggung, hutan yang akan ditebang di kawasan tangkapan air itu mencapai 2.260 hektar. Katanya mau dibuat kebun bunga. Katanya bunganya untuk diskspor,”papar jenderal yang cinta lingkungan itu.

    “Kita sangat prihatin karena ratusan meter hutan perawan di sana sudah dibabat habis, katanya buat jalan ke areal yang akan diubah jadi kebun bunga,’tambahnya.

    “Tele itu adalah daerah tangkapan air, dan seperti tadi dijelaskan Pak Bungaran, daerah itu sangat ringkih dan rawan longsor,”tutur Cornel sambil menegaskan,”Saya setuju dengan apa yang dikatakan Lae Situmorang, saya mengerti apa yang dikuatirkannya, bahwa besar kemungkinan rencana membuat kebun bunga di bekas areal hutan seluas 2.250 hektar itu hanya kedok. “

    Yang disitir Cornel adalah ucapan Suhunan Situmorang di awal acara, saat menyampaikan kata sambutan selaku Ketua Steering Commitee TobaDream Dialogue. Suhunan membeberkan kepada hadirin mengenai pembabatan hutan di Tele, termasuk sinyalemennya bahwa target utama investor PT EJS dari Korse adalah menyikat kayu di hutan alam itu.

    “Memang sudah banyak kejadian seperti itu, “ujar Wakasad Cornel Simbolon. “Hutan dibabat, katanya mau buat kebun kelapa sawit atau kebun bunga. Tapi, setelah hutan dibabat dan kayunya dijual, investornya kabur. Makanya kita harus cermati terus perkembangan di Tele ini. Itu adalah daerah tangkapan air, sebagian masih hutan perawan. Kenapa itu harus dibabat ?”

    “Makanya kita harus selamatkan hutan Tele. Kalau perlu kita panggil Bupati Samosir Mangindar Simbolon ke Jakarta, untuk menjelaskan kebijakannya membabat hutan perawan di sana, “tegas putra Samosir yang kenal liku-liku kawasan Tele itu.

    Hutan lindung

    Letjen Cornel Simbolon, yang bicara berdasarkan hasil pengecekan terbaru di lapangan, dengan blak-blakan menyatakan kurang yakin mengenai kelayakan investasi kebun bunga di Tele. “Mau diangkut pakai apa bunga-bunga itu ke Medan ? Dan kalaupun bisa, biaya transportasinya pasti sangat mahal. Pokoknya sangat meragukan, sehingga lebih masuk akal kalau investor hanya mengincar kayunya,”ujarnya.

    Menurut Cornel, selain penyelamatan hutan Tele, agenda sangat penting yang harus segera dilakukan adalah menentukan peta hutan di Samosir. “Perlu segera dilakukan maping untuk menetapkan yang mana hutan lindung, yang mana hutan ulayat. Di Samosir belum jelas maping seperti itu.”tandasnya.

    Dalam kesempatan itu Cornel Simbolon menyatakan sangat menghargai dan mendukung program konservasi yang akan dikerjakan Komunitas TobaDream. Besok pagi (9/2) rombongan Komunitas TobaDream akan terbang ke Medan, untuk selanjutnya pada Senin 3 Maret 2008, tepat pukul 3, akan menanam pohon pada areal seluas 2 hektar di desa Martoba , Kecamatan Sidihoni, Kabupaten Samosir.

    “Sangat saya hargai dan dukung program penanaman pohon yang akan dilaksanakan Komunitas TobaDream. Tapi perlu saya pesankan, kalian harus pentingkan untuk menjalin kerjasama dengan penduduk setempat. Jangan asal nanam pohon, tapi penduduk di sana hanya jadi penonton, akan sia-sia,”kata Cornel.

  3. lohot simanjuntak Says:

    saya sudah ketemu dengan amang manik ini di penangkaran monyet sibaganding ,dan juga dengan si bruno itu,kata orang sibruno dan saya gak beda beda amat.he..he..
    have a nice weekend
    mauliate ito desy-horas

    Partalitoruan
    Bah,beasa muse ma dang beda jauh ateh?
    mauliate juga tulang,Horas

  4. parlappotuaktakkasan Says:

    Syaloom…
    Horas ma dihita sude….. ima tahe .. molo taingot na di dok si ” DARWIN ” ia hita manusia saoppung do dohot monyet ( herek )… jadi ba… marsipasangapon ma hita tu herek… he..he…

  5. Kalo dibilang para pejabat pemerintahan tukang iri, benar gak sih? – Seharusnya dong mereka berterima kasih sama lae Manik itu… Dan, seharusnya pula membantu beliau karena daerah Sibaganding itu bisa sekalian dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif tujuan wisata… Nah, punggawanya, ya, lae Manik itulah…

    On, angka sibotu surat i sai naeng mangaut tu ngadol dohot alasan; hutan i milik ni pemerintah… Ai ise do pemerintah? Jolma do, manang… [hata i hata tambaan ni na deba]. Horas ma!

    Partalitoruan
    Nunga hupaganjang be di bagas rohakku bapa

  6. Ada sisi tragis dari kisah Umar Manik :

    1. Dia korbankan dirinya dan keluarganya hanya untuk “berbakti” demi monyet. Apa nggak ironis dan tragis ?

    2. Dengan diberi makan oleh Umar Manik, lama-lama para monyet itu kehilangan kesanggupan untuk mencari makanan dan bertahan hidup di alam bebas. Apa ini tidak perlu dipikirkan secara matang, hanya karena kita terpesona oleh kisah Umar yang dramatis ?

    Maaf bagi para penggemar Umar Manik. Aku tidak bermaksud buruk dengan komentarku ini yang mengajak kita berpikir ulang.

    Selamat berpikir MERDEKA

    Partalitoruan
    Silahkan dengan fikiran yang berbeda bang, pengayaan fikiran itu.
    MERDEKA juga bah
    Sekarang aku tanyakan bang, kalo kita biarkan monyet2 itu mencari makanan sendiri, tercukupi kah tanpa disupport oleh ompung Manik?Emangnya masih ada hasil hutan itu yang bisa mereka makan?Untuk pengorbanan dia, itu memang ada yang harus dikorbankan dalam setiap pilihan bang. Memang bang, keluarganya juga perlu, (jolma i pe rikkot do), alai akka herek on pe rikkot do on daba ito. Molo dang ompung i na berkorban, adakah yang lain yang lebih layak?Sedangkan nga total ompung i menjaga i, sai tong dope ro akka na mengusik, lamu dang dijaga, aha nama na terjadi da?

    Horas

  7. tanobatak Says:

    Horas tu “Tarzan Sibaganding”.
    Semasa Umar mengawasi kawasan itu, para monyet memang ngumpul disitu saya.
    Saat beliau terusir darisana, kita mulai dapat melihat para monyet itu berkeliaran di pinggir jalan. Itu memang menyenangkan para pelintas, namun ada juga yang tergilas karena tidak tau peraturan lalu lintas.
    Untuk mengatasi “peri kemonyetan” Umar dengan dampingan KSPPM pernah melakukan upaya penanaman pohon yang menjadi konsumsi monyet agar tidak tergantung total dengan pisangnya Umar. Upaya itu didukung Lembaga Penelitian Kehutanan Aek Nauli.
    Dengan membiarkan Umar melakukan itu semua tanpa dukungan dana untuk pembudidayaannya, saya rasa mustahil.

    Kenyataan saat ini, kera dan monyet itu banyak yang lebih senang mengharapkan “bantuan langsung tunai” di pinggir jalan. “Apa bedanya kita dengan manusia itu?” Mungkin itu dasar pemikiran mereka dengan adanya “raskin” dan “askeskin” untuk manusia😀

  8. Desperado Says:

    Tarzan of Parapat, masih nyentrik gayanya? Sudah belasan tahun tak melihat beliau…

    “1. Dia korbankan dirinya dan keluarganya hanya untuk “berbakti” demi monyet. Apa nggak ironis dan tragis ?”

    Aku memang sudah tahu sedikit banyaknya totalitas Umar Manik dalam menyayangi monyet dan hutan di kisaran Sibaganding, bila kita memang tidak terbiasa mendedikasikan diri terhadap sesuatu, kita akan mengatakan itu ironis dan tragis.

    Salah satu anak Umar Manik adalah teman sekelasku di SMP dulu, dari apa yg dia ceritakan, keluargalah yg mesti memahami kecintaan beliau yg ‘nyeleneh’ itu. Ambal-ambal ni hata, tak banyak yg tahu kalau beliau juga adalah ‘lady killer’ kelas wahid🙂

    Tak ada kata ironis dan tragis untuk orang idealis lae (Umar Manik memang idealis, tidak seperti orang lain yg kukenal mengklaim diri sendiri idealis, tapi NOL dalam pelaksanaan…)

    Botima,
    Hatangki hata tambaan, ditambai angka dongan!

  9. Mau lihat potret tokoh ini?
    Ada disini:
    http://www.charliesianipar.com/gallery/main.php?g2_itemId=160

    Partalitoruan
    mauliate ma tulang na burju

  10. horas, salam kenal ya

    Partalitoruan
    salam kenal juga ito…

  11. saya punya monyet ekor panjang. apakah mau menampungnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: