Berusaha menggugah

Pulang kerja tadi malam, angkot yang aku tumpangi berhenti di salah satu SPBU di bilangan Dewi Sartika. Sambil menunggu sampai selesai pengisian, aku iseng-iseng melihat ada tulisan di kertas kecil yang di temple di gallon nya itu, “harga pertamax naik menjadi 8.100” dengan hanya dituliskan di kertas ukuran A4 dengan pulpen biasa dan di stabilo. Bah kaget aku, gimana mungkin pengumuman sepenting itu, hanya ditulis dengan cara kek gitu?

Aku jadi teringat dengan perkataan bosku paginya “Des, tolong kamu Bantu saya broadcast ke yang lain, soal kenaikan tarif dasar listrik untuk daya 6600 ke atas (R3) dari semula 560/kwh menjadi 1680/kwh atau naik 100%, jadi tolong dihemat penggunaan listrik dan juga beritahukan kepada klien-klien bahwa service kita mengalami kenaikan”. Aku jadi menghubungkan kenaikan tarif listrik untuk golongan mampu dengan kenaikan pertamax, yang notabene hanya digunakan oleh orang-orang mampu. Sudah tak ada subsidi lagi untuk orang-orang kaya itu. Tapi di sisi lain, kelemahannya, untuk industri jadi berimbas, sehingga harga-harga biasanya akan ikut naik, dan mau ga mau masyarakat yang tadinya “ingin diselamatkan itu” akan kena imbas juga. Jangan-jangan malah lebih berat. Karena masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli barang-barang yang mereka butuhkan. Bukankah itu lebih menyusahkan?

Kata orang-orang pintar negeri ini, yang sering disebut pengamat politik, pengamat ekonomi, pengamat bla bla (yang kerjanya hanya mengamati dan mereka bangga dengan sebutan pengamat itu). Bukannya berbuat malah sibuk mengamati aja kerjanya. Tujuan penghapusan subsidi ini untuk mengalokasikan dana itu untuk pembangunan yang lain, misalnya infrastruktur, pembangunan jalan. Kebetulan pengamat ekonomi itu salah satu dosen di Jogjakarta, dia katakan“bayangkan bagaimana kalo jalan dari Jakarta ke Jogja bisa dibuat lancar, perekonomian bisa lebih hidup, semuanya serba lancar”. Tiba-tiba ketika pulang ke rumah, pada saat melintasi jalan DI.Panjaitan, jalanannya udah seperti mau ke kampung-kampung aja, tidak seperti jalanan di kota, itu parah sekali. Lobangnya, edan!!!! Bikin macet sampe parah banget. Karena pengendara mobil harus ekstra hati-hati apalagi pengendara motor. Aku langsung berfikir, bah jauh-jauh kali jalanan ke Jogja mau difikirin, yang gampang-gampang dan yang terdekat aja deh dibenahi dulu. Itu bener aja udah efisiensi waktu. Memperlancar perjalanan orang-orang yang bekerja. Juga menghemat pengeluaran mereka ke bengkel untuk membenahi segala macam spare part yang rusak karena kubangan-kubangan di tengah jalan itu.

Selain biaya-biaya yang mereka keluarkan itu, keadaan itu juga sangat membahayakan. Gimana ngga? Kalau untuk yang sudah biasa melintasi jalan itu, tidak masalah, sudah tau dimana dia harus nge rem, dimana harus gas. Bah kalo untuk yang tidak familiar di jalan itu, aturan nge rem dia meng gas, bah galdap lah dia.

Semenjak SBY jadi presiden, entah sudah berapa kali dia dan jajarannya itu menaikkan tarif listrik, telepon, dan harga BBM. Apa maksudnya? Semakin hari, keadaan semakin susah, tidak ada lagi yang bisa dinikmati dengan indah. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin mampus.

Dimana-mana pemerintah selalu menggalakkan supaya kita hidup hemat, matikan lampu yang tidak perlu, untuk mengirit penggunaan listrik. Sepertinya, itu tidak berlaku terhadap golongan boros listrik itu, toh tetep aja mereka pake sesuka-sukanya aja. Matiin lampu, tapi AC dan TV nyala, apa gunanya? Sama aja. Ga ngaruh, padahal uang untuk bikin iklannya berapa banyak tuh? Tidak efektif!

Dimana-mana digembar gemborkan masalah Negara yang sedang memprihatinkan. Kenyataannya mobil-mobil mewah bersliweran di jalanan. Rumah-rumah megah berdiri disana-sini, seolah-olah menertawakan masyarakat kecil yang rumahnya memprihatinkan bahkan tidak punya rumah.

Mungkin, aku sudah orang yang kesekian ratus juta orang yang berusaha menggugah melalui tulisan seperti ini, bahkan tidak sedikit yang berusaha menggugah dengan cara ekstrim. Misalnya dengan aksi jahit mulut. Adakah perubahan? Sepertinya sampai sekarang tidak ada. Tapi siapapun yang punya keinginan untuk menggugah, lakukanlah. Karena langkah besar dan lari kencang itu dimulai dari langkah kecil.

6 Tanggapan to “Berusaha menggugah”

  1. SBY sedang konsentrasi mengerjakan albumnya yang kedua…

  2. fiksirealita Says:

    Bukan di negara kita saja mengalami kenaikan harga pada barang2 vital itu. Boleh saja sih menggugah, tapi mari kita bantu pemerintah sekuat tenaga. Aku rasa Nasionalisme bangsa yg sangat kucintai ini sudah sangat berkurang. Bangkitkan kembali semangat nasionalisme untuk membangun negeri ini….Salam kenal ya ito….Horas

  3. fiksirealita Says:

    Hehehe…sori ito kok jadi salam kenal pulak kubikin, aku si Manaek Marpaung…. Horas jala gabe….

  4. Waallaahh…! Para politikus, pengamat, birokrat, dan sibegu lantuk semua itu… cuma pintar ngomong doang… Tetap aja ujung-ujungnya untuk kepentingan kelompoknya.

  5. wah… menarik juga komentarmu ini dek… jadi pengurangan subsidi sejatinya bukan untuk dialihkan ke pendanaan infrastruktur… SETUJU kali lah aku dengan hal ini… kemana ya larinya? (ups… mode pura-pura bodoh ON)..
    Btw, rusaknya infrastuktur jalan di jakarta tak ada seberapanya dengan di tapanuli loh… Bayangkan, minggu yang lewat aku jalan ke Sidempuan dari Medan. Waktu perginya, terpaksa merayap di Pahae Julu karena jalannya tertutup pasir yang dibawa banjir dan ‘antri’ 5 jam di aek latong (sipirok). Pulangnya lewat jalur sibolga, harus pula merangkak menghindari lubang-lubang besar di sepanjang jalan Sibolga-Tarutung… Sialnya lagi, sepanjang jalan harus sering merapat ke pinggir jalan, memberi jalan untuk rombongan kampanye yang sedang hilir mudik memobilisasi dukungan… hehehe

  6. Humbang Hasundutan Says:

    Pengamat tidak bisa berbuat apa-apa, yang perlu disorot adalah para pelaksana. Kritik dan saran dari hasil pengamatan, gugahan demi gugahan telah disampaikan, bahkan gugahan yang paling menggugahpun yaitu ‘krisis’ itu sendiri telah ada di hadapan mereka, krisis demi krisis muncul sebagai “kri_tik terhadap sis_tem” yang ada, tetapi mereka tidak mau bertindak tepat. Apakah krisis yang sedang terjadi di Danau toba belum cukup menggugah?

    Sudah jelas krisis Danau Toba di hadapan mata, pemerintah masih akan menambah lagi krisis lain dengan rencana merobah hutan Tele menajadi Taman Bunga, dengan alasan agar pendapatan asli daerah meningkat. Buat apa pertumbuhan ekonomi itu kalau hal itu akan mengakibatkan lingkungan menjadi ancaman bagi kehidupan manusia, dan alam tidak bisa lagi menghasilkan sesuatu untuk dimakan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: