May Day alias Hari Buruh Internasional

Dua hari terakhir ini, ramai sekali media membicarakan persiapan untuk menyambut May Day (hari buruh internasional) yang jatuh di tanggal 1 Mei, dan kali ini bertepatan dengan libur nasional, hari Kebangkitan Yesus Kristus. Banyak kalangan yang memperkirakan ini akan terjadi besar-besaran, bahkan jajaran aparat keamanan DKI Jakarta, sudah mempersiapkan 15.000 personel yang terdiri dari Polisi, TNI dan Tramtib (untuk aparat yang terakhir, aku tak suka tuh sama sekali). Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto mengatakan bahwa May Day besok, akan berlangsung rusuh. Menanggapai hal itu, Dita Indah Sari, Ketua Umum Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia ( FNPBI), mengatakan bahwa itu hanyalah skenario yang dirancang oleh pemerintah yang ujung-ujungnya nantinya akan menghimbau supaya buruh tidak jadi melakukan aksi demo (dikutip dari www.okezone.com per tanggal 30 April 2008 ). Kalau memang sudah tercium akan ada kerusuhan, kenapa tidak tangkap saja perencana nya? Sehingga kerusuhan yang dikhawatirkan itu tidak sampai terjadi. Menurut Dita, aksi buruh tahun ini dinilai sangat penting, karena ada isu yang terus menerus diperjuangkan oleh mereka, yaitu penghapusan outsourcing dan perlindungan pemerintah terhadap industri dalam negeri.

Untuk poin pertama, aku setuju. Aku sendiri, pernah bekerja dibawah outsourcing, kalau aku menyebutnya, kerja di outsourcing itu tidak adil sama sekali. Aku katakan demikian, karena memang bekerja di bawah outsource itu, tekanan nya luar biasa, pendapatannya sangat kecil, dan kita serba tidak jelas. Bagaimana mungkin setiap tahun selalu ada perpanjangan kontrak, tidak perduli sudah berapa lama bekerja, tidak ada istilah karyawan tetap, setiap tahunnya, selalu sibuk dengan kontrak baru, menurutku berkarir seperti ini, tidak sehat dan tidak baik. Tidak adanya perlindungan yang jelas terhadap karyawan, karena perusahaan outsource sibuk memikirkan kepuasan klien, mana yang tidak disukai klien, ditendang dengan mudah, tanpa memikirkan perasaan si karyawan, tanpa mempertimbangkan kebaikan dan kesalahan si karyawan. Sungguh tidak enak sekali. Dan bagi si klien yang mempergunakan jasa outsource, apalagi di bidang jasa, seperti misalnya, customer service, atau call center sudah banyak yang memakai jasa outsource, karena perusahaan berfikir itu lebih praktis, okelah dari segi sarana dan tempat, mereka tidak perlu menyediakan anggaran khusus untuk itu, karena mereka tinggal bayarkan sejumlah angka kepada perusahaan outsource, kerjaan beres. Sementara jika mengalami komplain dari customer soal buruknya pelayanan call centre nya, tinggal pecat saja yang bersangkutan, gampang. Bagi si call centre sendiri, dia hanya seperti robot, yang bekerja mengikuti prosedur yang diterapkan oleh perusahaan outsource, lantas selebihnya tidak ada kompromi. Terkesan kaku, tidak humble, tidak helping dan terkesan sombong, padahal itu semua hanya mengikuti prosedur yang dikasih aja. Padahal,kalau mereka langsung di bawah perusahaan yang bersangkutan, mereka akan merasa memiliki dan merasa maksimal untuk perusahaan tersebut, mereka akan loyal. Sementara kalau di bawah outsource, mereka hanya tau nama produk yang mereka maintan, tidak tau untuk siapa mereka kerja. Karena mereka tidak kenal, maka mereka tidak sayang. Kemudian untuk penghasilan, karena outsource mengambil fee dari sana, maka yang sampai ke tangan karyawan itu sangat kecil sekali. Sebanyak mungkin perusahaan outsource akan cari kesalahan, supaya semakin banyak pemotongan rupiah, sehingga banyak yang masuk ke kantong mereka-mereka itu. Ini semata-mata berdasarkan apa yang pernah aku alami, selama aku pernah bekerja dibawah outsource. Tidak tertutup kemungkinan ada outsource yang berperikeburuh an.

Dan untuk poin kedua yang mereka perjuangkan, aku setuju. Karena memang sangat kelihatan perbedaan perilaku pemerintah untuk usaha dalam negeri, dibanding industri luar negeri. Mungkin pemerintah ini berfikir, dengan memberikan service habis-habisan kepada industri luar negeri, akan membuat mereka berlomba-lomba berinvestasi di Indonesia. Padahal kalau difikir-fikir, industri dalam negeri juga sangat menjanjikan dan sangat menghasilkan bagi negara. Kenapa justru industri dalam negeri di anak tirikan? Bukankah itu jadi terbalik. Itu yang membuat industri luar negeri besar kepala dan menekan buruh nya habis-habisan, seperti yang terjadi pada pabrik sepatu Nike. Entah bagaimana kelanjutan kasusnya itu. Seenaknya saja dia menghentikan kontrak dengan pengusaha Indonesia, dengan alasan tidak memenuhi standar kualitas. Lah, aku jadi bingung, setelah puluhan tahun, kenapa baru sekarang ngomongin standar kualitas? Selama ini, kemana aja? Apa QC Nike baru bekerja belakangan ini aja? Atau karena sudah menemukan negara baru yang biaya buruhnya lebih murah?

Aku sangat mendukung aksi buruh besok, untuk mengingatkan pemerintah, bahwa mereka jangan sibuk-sibuk ngurusin hal-hal ga penting, fikirkan lah nasib buruh- buruh itu. Pak Presiden, nanti-nanti aja lah album kedua kau itu, urus dulu buruh itu.

2 Tanggapan to “May Day alias Hari Buruh Internasional”

  1. buruh memang tetap korban.
    kapitalis!
    harunya kita sosialis dulu. Baru kapitalis.
    yang terjadi, kita ga jadi dua2nya.
    pancasila!
    ga ngerti aku apa itu pancasila.
    juga, uu itu semua.
    hah! pening kepala mikirin itu, ito…
    kalau ito nanti jadi pemimpin, buruh harus dijadikan aset… bukan untuk dihisap darahnya…

    horas!

    Partalitoruan
    Bah,zadi pemimpin au nimmu ito?Bayangkan ito lah nanti entah zadi apa kusulap negeri mimpi ini…Hehehehe

  2. Farida Simanjuntak Says:

    Buruh…………
    Walau sampai kemana pun usaha untuk mendapat penghargaan yang lebih dari para pemimpin kita, mungkin masih merupakan perjuangan panjang yang harus dilalui dan hanya sebuah mimpi manis untuk mendapat tempat yang layak bagi mereka yang menamakan diri orang intelek dan pemimpin.
    Tapi sebenarnya kaum buruh harus bangga, walau ada aja pihak yang berusaha membekap mulut dan menghentikan segala aktivitas untuk sebuah pengakuan HAM, justru di situlah letak kekuatan buruh yang sebenarnya yang membuat para orang-orang atas kegerahan dan takut. Kalau tidak, ngapain juga repot-repot mengatasi atau mengantisipasi aksi buruh ???????
    Sudah saatnya pemerintah dan pemilik modal mau berdamai dan bergandengan tangan dengan kaum buruh, karena tanpa mereka sebuah produksi tidak dapat berjalan…

    Partalitoruan
    betul eda, kebayang aja gitu, kalo nanti suatu saat, kaum buruh sudah sampai di titik jenuh nya, mereka melakukan mogok massal, pasti roda perekonomian carut marut tak jelas.Dan para kapitalis itu gigit jari, emangnya modal mereka itu mau diapakan,kalo tidak ada buruh yang bekerja untuk mereka?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: