Ohh Nai Tumiar, tangismu…

Akhirnya, lulus juga si Taruli itu menjadi dokter. Setelah menyelesaikan serangkaian kuliah, praktikum, koas dan sebagainya. 6 tahun, dia habiskan di salah satu kampus swasta keagaamaan tertua di Indonesia. Tak sia-sia segala harta benda dijual mamaknya di kampung sana. Ah, tapi janggal juga itu disebut harta, karena Cuma sebidang tanah, yang diatasnya ditanami bawang merah yang setiap minggunya dijual ke pekan raya.Itupun hasilnya tidak menentu, kadang dua karung, kadang bisa sampe 5 karung, atau bahkan hanya sekarung. Kalau Cuma sekarung, maka biasanya mamaknya akan titip jual sama kawan sekampungnya, karena nanti bisa-bisa dia berat di ongkos.

Yah, memang, tujuh orang kakak-kakaknya juga turut membantu biaya perkuliahan si Taruli, karena tinggal dia lah yang belum jadi ”orang” diantara mereka semua. Itu juga lah amanat terakhir dari almarhum ayahnya, yang seorang mantri, yang menginginkan paling tidak salah satu anaknya menjadi dokter. Selangkah lebih maju dari profesinya, semasa hidupnya. Dengan perjuangan berat, maka cita-citapun terwujud sudah.

Dengan sambil mengunyah sirih di mulutnya, si Nai Tumiar itupun memasang senyum paling indahnya, berfoto disamping boru siampudannya itu. Dia tidak tau, bahwa putri kesayangannya itu, sudah sangat resah, menanti kapan kiranya sesi foto-foto ini berakhir, supaya dia bisa segera pergi, melancarkan cerita yang telah dirancangnya, yaitu acara perpisahan bersama teman-temannya di rumah salah seorang temannya yang kaya raya, di kawasan Tebet. Sorepun tiba, dia segera menanggalkan toga dan kebayanya itu, bergegas mengganti baju nya dengan jeans dan kaos putih andalannya. Kemudian ibunya pun dengan berat hati mencoba membujuk, supaya dia tidak usahlah pergi dulu, tinggallah dulu bersama ibu dan kerabatnya yang telah jauh-jauh datang dari Bantar Gebang sana. Tapi, dia berkeras mengatakan bahwa saat inilah waktu terakhir dia ketemu dengan teman-temannya. Akhirnya setelah melalui perdebatan panjang, ibunya pun mengalah sambil mewanti-wanti supaya pulang secepatnya.

Dengan sangat riang dia melangkahkan kakinya, sedikit terburu-buru, sambil sesekali melihat ke belakang, memastikan tidak ada keponakan, ataupun pembantu kakaknya yang mengikutinya dari belakang. Kemudian dia sedikit berlari mendapatkan lelaki yang berada di balik kemudi civic silver itu. Akhirnya, dia bertemu dengan kekasih pujannya itu. Orang yang sudah 2 tahun ini menemani hari-harinya, yang tidak diketahui oleh kakak-kakaknya apalagi ibunya. Gimana ngga backstreet, selain beda suku, mereka pun beda keyakinan. Mana mungkin keluarganya menerima percintaan jenis begitu.

Mereka pun langsung meluncur ke arah Puncak, Jawa Barat, ternyata rencana mereka sudah matang, merayakan kelulusan si Taruli berdua saja, tanpa ada gangguan apapun. Sangat matang bahkan, karena ternyata sudah sejak dua hari yang lalu si Taruli memasukkan pakaian-pakaiannya ke bagasi mobil pria itu. Setelah menempuh perjalanan dua jam lebih, merekapun sampai di kawasan Cisarua, di villa yang mereka sudah booking dari dua minggu lalu, untuk ditempati selama 2 malam, 3 hari! Bah! Tampaknya dia sangat tidak ingin diganggu oleh siapapun, dia pun sengaja menon aktifkan handphone nya. Dia tidak perduli ,sekalipun nanti saudara-saudaranya akan mencarinya, karena ibu mereka masih ingin mengobrol-ngobrol dengan putri kesayangannya itu. Sudah 5 tahun berselang putrinya itu tidak pernah pulang ke kampung halamannya. Katanya, disana terlalu dingin, terlalu sepi, tidak ada hiburan. Dan dia katakan pula, bahwa terlalu kolot disana, karena setiap orang pasti memandangnya dengan pandangan tidak bersahabat, ketika dia berjalan –jalan dengan celana hot pants dan kaos ketatnya itu. Seolah-olah dia asing dengan tanah kelahirannya itu, asing dengan tempatnya di besarkan. Sungguh, pesona Jakarta itu mengangkat dia terlalu tinggi. Dia tidak tau, betapa sakit nantinya pada saat dia jatuh.

Terlalu jauh dia dirasuki racun-racun Jakarta itu. Betapa dia menjadi pencinta tubuh setipis triplek, sampai-sampai dia hampir terkena bulemia. Betapa dia tergila-gila dengan piercing, sampai-sampai keponakannya takut dia gendong, takut tertusuk anting-antingnya yang menyerupai paku seng itu. Dan betapa dia juga menggilai pria yang bernama Bima itu.

Ketika dia sudah dinyatakan lulus dalam sidang, dia pun merayakannya berdua kekasihnya itu. Padahal, wisuda 2 bulan lagi. Dia tidak kuasa menolak permintaan kekasihnya itu, untuk melakukan pembuktian cintanya pada pria itu. Pria yang tidak akan pernah direstui oleh keluarganya.

Dia sangat menikmati hawa Cisarua. Disana, dia merasa tenang dan damai. Sambil mereka sesekali bercanda, Taruli pun menanyakan bagaiman kelanjutan rencana Bima untuk menikahinya. Dan si lelaki itupun selalu mengangguk dan mengiyakan dengan mantap janjinya itu. Dan tidak ada kecurigaan sedikitpun di hati Taruli. Dia semakin merasa bahwa pria itu sangat mencintainya, mencintainya dengan setulus hati. Pria yang dia yakini akan menjadi suaminya kelak, yang akan menjadi bapak dari anak-anaknya kelak, yang akan melindunginya hingga rambutnya memutih. Itulah yang selalu diucapkan pria itu padanya.

5 Tanggapan to “Ohh Nai Tumiar, tangismu…”

  1. Anak sasada Says:

    “semua lelaki itu brengsek” balasnya saat aku mengutarakan rasa cintaku.
    dgn enteng aku hanya berkelit “kamu salah cantik,aku bukan lelaki brengsek tpi bajingan.”
    berakhir pula kisah berburu cinta yg sudah berjalan 3 bulan. gim operr.

  2. Si Taruli, marpangalaho hurang tarpuji, jala hurang uli. Anggo sasintongna, parjolo ma nian ibana berbagi kebahagiaan dohot angka keluargana. Tarlumobi, natua-tuana. Unang be nian adong si Taruli na asing si songon on. Horas…
    Partalitoruan
    Ima dah tulang,bersambung dope i tulang😉

  3. Anson Simanjuntak Says:

    Si Taruli on memang salah mengartikan ” Dimana Langit Dijungjung Di Situ Bumi Kita Pijak ”

    Ala nungga di Jakarta on ibana Marsikkola gabe lupa ibana Songon dia makhutti bawang sian Ladang dohot manambori sahat tu namarsuan parbawangan ni.

    Horas ma dihita saluhutna.

  4. Pinaintema jolo sambungan ni sarito on da. Mungkin sadardo si Taruli na so tarpasu-pasu dope. Di ingot muse naung sai tarpaima inongna diharorona.

  5. ohh taheeee taruli na mabaor..
    si peput do si taruli mi eda..
    boasa dang gabe tarungar ibana…
    ale..
    sedikit adong nyentil tu au i edaa..
    taringot tu civic silver i…
    baen jo lanjutan na ate eda..
    gabe huingot seritam na i angkot i ho..
    na paduil2 hon ibana marbahasa indonesia..
    hape na sian hitaan do pe ibana…
    horas ma
    hujaha do torus blog mu
    na so sanga do pe mangaresponn

    Partalitoruan
    Daga si peput narittik on.Mulai sogot dang boi be ho ro tu parbalokan on.Bah, ada apa dengan civic silver, nongkrong di depan kantor, sementara iba bakudapa meeting Dekopin na magege?Bah, so holan tarungar annon si Taruli on.Di bagian dihana na makkonai i eda?Asa tasosa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: