Ohh Nai Tumiar, tangismu, part -2

Tidak sekalipun Taruli berusaha mengaktifkan handphone nya, dia tidak perduli lagi dengan orang –orang di luar sana. Hanya dia dan Bima, itulah yang dia tau saat itu. Sudah satu malam dia lewatkan disana. Dan dia semakin yakin dengan pria yang selalu bersamanya itu. Mereka menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan, berenang, makan jagung bakar, dan banyak lagi kegiatan menyenangkan yang mereka lakukan bersama, selalu.

Tidak terasa sudah malam kedua, itu artinya malam terakhir buat mereka. Dan mereka menghabiskan malam itu, dengan cara mereka sendiri, cara yang menurut mereka benar, tapi tidak untuk orang tua, apalagi untuk orang tua si Taruli. Mereka tidak menyia-nyiakan sedikitpun waktu itu, karena mereka akan meninggalkan tempat itu esok harinya.

Besoknya, mereka pun berangkat menuju Jakarta setelah terlebih dahulu makan siang di Bogor. Pada saat mulai memasuki pintu tol ke arah Jakarta, Bima tiba-tiba bilang, bahwa ada barang yang ketinggalan di villa. Si Taruli tanpa curiga pun menyarankan supaya balik lagi, malah dia senang, karena itu artinya extra time untuknya bersama sang kekasih. Akhirnya mereka pun masuk tol Ciawi untuk terus ke arah Puncak. Tapi, aneh kenapa mereka melewatkan simpang masuk villa itu? Mau kemana mereka?

Entah apa nama tempat itu, Taruli tidak tau, tapi yang pasti, tempat itu sangat sepi, sangat gelap, karena banyak ilalang, yang tingginya hampir menyamai tinggi manusia. Entah untuk apa mereka berada disana. Tapi, tampaknya mereka berdebat. Dan terdengar tangis si Taruli, ketika Bima mengatakan bahwa mereka tidak dapat terus bersama, karena orang tua Bima tidak mungkin mau menantu dengan suku dan keyakinan berbeda. Apalagi Bima adalah anak laki-laki satunya dalam keluarga mereka. Orangtuanya sudah punya calon untuknya, dan Bima pun menyukai wanita itu. Karena wanita itu jauh lebih anggun dari si Taruli. Si wanita itu, jauh lebih alim. Pokoknya, Bima berulangkali mengatakan bahwa wanita yang bernama Inge itulah yang pantas untuknya, bukan Taruli. Taruli tentu saja tidak terima begitu saja, setelah sekian lama mereka bersama. Setelah Bima selalu meyakinkan dirinya bahwa mereka akan menikah. Tidak pernah dia bayangkan akan mendapatkan pernyataan seperti itu dari lelaki yang sangat ia puja siang malam, selama dua tahun terakhir itu.

Dia selalu memaksa, bahwa dia tidak akan mau berpisah dengan Bima, apapun alasannya. Taruli akan terus berusaha, sekalipun harus jujur pada orang tua Bima tentang keadaannya, tentang cintanya, tentang semuanya. Tapi tidak dengan Bima, dia sepertinya tidak mau lagi melanjutkan hubungan cintanya dengan gadis itu. Dan Taruli tau betul adatnya Bima, yang keras kepala, dan tidak gampang untuk merubah keputusannya.Dan Taruli pun akhirnya kehabisan akal, dia pun meraung sejadi-jadinya, mengancam akan berteriak memanggil orang-orang supaya datang kesana. Bima pun panik, dalam keadaan seperti itu, Bima berusaha melunakkan hati kekasihnya itu. Dan berusaha menuntunnya untuk duduk di belakang mobil di dekat batu besar, tanpa curiga Taruli menurut saja, tidak disangka, bahwa dia akan dibenturkan ke batu yang tingginya hampir 50 cm itu, berulang-ulang! Sampai akhirnya dia meregang nyawa di tangan kekasihnya itu, lelaki yang selalu dia puja itu. Dan kemudian, masih dalam keadaan kalap, Bima mendorong tubuh kurus itu ke arah jurang, supaya tidak ada yang menemukan jejaknya, tidak ada yang bisa menemukan mayat Taruli.

”Aya mayit awewe diditu, aya mayit, aya mayit” teriakan pak Ujang memecah keheningan pagi itu, orang-orang bingung, ada apa gerangan? Kenapa pak Ujang, yang sehari-harinya berprofesi sebagai penyabit rumput itu, berteriak aneh seperti itu, apa dia kembali lagi mabuk setelah sudah sebulan dia memutuskan tidak lagi mengkonsumsi miras sepeninggal istrinya karena sakit kanker rahim itu? Ah, rasanya tidak mungkin. Kemudian orang-orangpun berhamburan menghampiri dia. Dan akhirnya mereka pun sama-sama terkejut menyaksikan apa yang di depan mata mereka…..

2 Tanggapan to “Ohh Nai Tumiar, tangismu, part -2”

  1. bieh… taon ton ma kedan…. ima balos ni na so mangoloi natuatua na….

    alai mansai ngeri mai poang… nga olo gabe masuk BUSER annon i manang so i SERGAP.. daong tahe.. cocok na masuk tu SILET do ra ateh… hehehehe

  2. Kejadian seperti ini bukan cuma satu dua kali dalam dunia nyata. Kalau tidak kuat iman bisa saja terjadi. Baik Bima pun Taruli keduanya tidak benar dan resiko akan mereka terima.. ah tahe kok gabe serius aku nanggapin cerita ini…. hati-hati saja para ito-ito… ya itu saja dehhh Horasma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: