Ohh Nai Tumiar, tangismu…part -3 (selesai)

”Lului hamu jo anggi muna i, natudia ma i, nunga saminggu lobi naso mulak i, naso huboto do dalan i Jakarta on, nga holso rohakku alani, ba mate nama au molo dang ra mulak i borukki, tampukni pusu-pusukki” entah sudah berapa kali ibunya berkata seperti itu kepada kakak dan ipar-ipar Taruli. Setelah bertanya kesana kemari, termasuk ke beberapa orang pintar, mereka disarankan mencari ke teman-temannya saja dulu, karena dia tidak kemana-mana, dia masih di sekitar Jakarta.

Mereka masih optimis akan segera menemukan si bungsu itu, secepatnya. Tapi tidak ketika mereka akhirnya bertanya kepada temannya yang bernama Jonner, teman SMA nya semasa di kampung. Jonner, yang menaruh hati pada si Taruli sedari mereka masih duduk di bangku SMP, walau sudah sampai di bangku kuliah, perasaan itu tetap sama. Dia memilih untuk berada di kampus yang sama dengan Taruli, walau beda fakultas. Dia memilih jurusan hukum. Jonner sampai-sampai memilih ber kost dekat dengan tempat tinggal si Taruli, di daerah Kebon Pala.Sebegitu harapnya dia pada si Taruli itu.

Kaget sekali abang si Taruli itu, ketika si Jonner menyarankan untuk mencari si Taruli itu ke rumah pacarnya. Abangnya bingung, pacarnya yang mana,apalagi dia makin bingung pada saat si Jonner memberitahu sudah dua tahun terakhir ini mereka menjalin cinta. Bah!Tapi, sayangnya si Jonner tak tau dimana alamat pacarnya itu, dan dimana pacarnya itu kuliah, dia pun tidak tau. Karena si Taruli sangat tertutup soal hal itu.

Ah, abangnya pulang dengan hati gelisah, apa yang akan kukatakan sama mamak nanti?Dia terus berfikir, apa kiranya yang nanti akan dia sampaikan pada nenek dari 9 cucu itu? Tidak terasa dia sudah sampai di depan rumahnya, dia pun makin kaget, mendengar suara ibunya menangis meraung-raung dari dalam. Dia mendengar berulang kali ibunya memanggil nama si Taruli. Dia pun bertanya pada pembantu rumahnya, ternyata tadi ibunya menonton tayangan berita kriminal di tipi, disebutkan ada penemuan mayat wanita di daerah Cisarua, dan pada saat disebutkan ciri-cirinya, si ibu itupun menangis sejadi-jadinya. Tanda lahir di kaki sebelah kanan, yang tampak seperti bekas kena bakar. Ibunya pun memaksa anaknya itu untuk pergi kesana dan memastikan mayat itu, apakah itu boru siampudannya atau bukan. Dan yang lebih membuat bapak dari dua anak itu bingung, ibunya memaksa ikut.

Akhirnya mereka sampai disana, dan mengenali mayat itu sebagai si bungsu mereka. Ibunya pun menangis sejadi-jadinya. Dia selalu meratapi perbuatan siapa itu, begitu teganya membunuh anak perempuan hasiannya itu. Tidak lama, tim dari kepolisian datang, langsung menanyakan yang mana keluarganya, dan mereka pun menerima kabar yang lebih mengagetkan lagi, bahwa Taruli dalam keadaan hamil!

Kaget! Terpukul dan bingung. Mereka tidak tau harus berbuat apa lagi. Segera mereka mengurus supaya mayat si bungsu itu bisa dibawa pulang. Dan hari itu juga, mereka bisa membawanya ke Jakarta. Nai Taruli berkeras akan membawa pulang mayat anaknya itu ke kampung halaman mereka, untuk dimakamkan di dekat bapaknya. Permintaan yang berat untuk dituruti. Setelah berembug, akhirnya mereka membiayai kepulangan ibunya, plus jenazah adik bungsunya itu ke kampung.

Sepanjang jalan, tangis ibunya itu tidak henti-henti, sampai-sampai menantunya lelah sudah memperingatkan supaya tetap menjaga kesehatan, jangan menangis terus-menerus. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 6 jam, mereka pun tiba di desa asal Taruli. Dan tangis pun makin pecah ketika beberapa kerabatnya, akka ina-ina ikut menangis jenazah Taruli. Ah, sungguh sedih rasanya, sungguh pilu mendengar tangisan akka ina-ina itu. Menyayat hati kalipun. Idophon nasida rohana, bagaimana kalau mereka kehilangan putri mereka. Sesuai adat batak, maka kalau anak gadis yang meninggal, tak boleh berlama-lama di rumah duka, secepat mungkin langsung dimakamkan. Dan tidak ada tortor-tortor kita temui disana.

Keesokan harinya, diantarkan lah jenazah si Taruli, ke tempat peristirahatan terakhirnya, di samping ayahnya tercinta. Taruli, gelar doktermu itu tidak sempat kau pakai untuk mengabdikan dirimu untuk masyarakat, malah langsung ke bawah tanah sana. Tidak juga sempat kau pake ilmu mu itu, untuk mengobati ibumu yang sudah bertahun-tahun menderita rematik. Saking sayangnya ibunya pada si Taruli itu, rasanya tidak kuat dia pisah lama-lama berpisah dengan boru kesayangannya itu. Seminggu kemudian ibunya pun menyusul si Taruli dan bapaknya.

4 Tanggapan to “Ohh Nai Tumiar, tangismu…part -3 (selesai)”

  1. Rondang br Siallagan Says:

    Sedih sekali ceritamu ini…
    Yach walaupun ini berupa cerita, saya harap jangan lah ada seperti si Taruli ini..
    Mungkin ada di kenyataan tapi belum pernah terungkap…
    Dan karena itu jangan terlalu percaya lelaki 100%..apalagi dalam masa pasaran.

    Kadang selama pacaran kelihatan cocok dan OK…dan mengatakan akan menikahimu… tapi kenyataan beda..dia menikah dengan teman se organisasimu..tanpa sepengetahuanmu. Kamu tahu saat undangan di terima…Pengalaman soalnya.

    Partalitoruan
    Mudah2an ka, tidak ada kejadian seperti ini menimpa orang-orang tersayang kita. Ada cerita tersendiri di balik tulisan ini ka, mudah2an kita bisa sama2 belajar dari kisah ini.

  2. Rondang br Siallagan Says:

    Tadi terputus..karena komputer mau dipakai anak2, Lanjut…

    Ya, Undangan itu kamu terima bukan dari pasanganmu tapi dari orang/teman terdekat.sahabat baikmu….yang merupakan pandongani…perkawinan cowokmu dan teman seorganisasimu….Sebelumnya seakan tidak percaya karena nama bisa saja sama, tapi di selidiki semua ciri2 dan tamat dari kampus mana serta alamat rumahnya….semua sama…Akhirnya teman/sahabatmu..kaget karena tidak pernah tahu atau lihat cowokmu. Soalnya kamu dan cowokmu tidak selalu ketemu ..maksimal 2 tahun. Jarak jauh..Keluarga dan tetangga yang tahu…
    Seakan-akan ingin marah, tapi yang lucunya yang marah itu bukan hanya kamu tapi keluarga dan tetangga….Keluarga dan tetangga yang sibuk menelepon cowok tersebut. Akhirnya dengan jiwa besar datang ke pesta perkawinan tersebut, mengingat teman wanita adalah temanmu..seorganisasimu.
    Apakah yang terjadi pada cowok tersebut, gregetan, gugup…keringat dingin, apa yang diucapkan bersalahan..
    Ach pengalaman… Walaupun ini sudah terjadi 20 an tahun (87) yl..seakan – kan baru kemaren.. Seandainya hal seperti ini terjadi pada adik2…tetaplah berjiwa besar…OK!

    Seperti yang saya katakan di atas…Jangan berikan hatimu 100%….beri 3/4 atau 1/2,…OK!

  3. Farida Simanjuntak Says:

    Eda,
    Memilukan sekali ceritamu ini..
    Tapi memang begitulah yang banyak terjadi sekarang ini, banyak perempuan halak hita yang kehilangan jati diri dan gilanya malu berteman atau pacaran dengan lelaki batak. Ini juga kualami dari beberapa kawanku “yang ngaku” boru batak tapi selalu meledek aku karena kebanyakan kawanku orang batak, aku selalu mencari komunitas batak dan aku mencintai segala sesuatunya yang mengandung unsur batak. Prinsipkku, Aku adalah boru batak, dan aku tidak mau kehilangan jati diriku sebagai boru batak.

    Horas

    Partalitoruan
    Setuju eda

  4. Rondang br Siallagan Says:

    O…Ya, Mengenai kadonya…ini yang lucu..sebenarnya saya tidak ingin memberi kado..tapi atas inisiatif tetangga dan abang…karena mereka yang membungkus kado tersebut. Akhirnya saya bawa…
    Kadonya CD llk di lobangi dan di beri batu didalamnya…..Artinya….”Gua timpuk pidong lu dengan batu”….
    Tidak mungkinkan kita melemparnya dengan batu…

    Seperti didalam cerita yang sering ketemu saja demikian apalagi yang jarang/hubungan jauh….
    Beri hatimu 1/2 dan 1/4 bukan 3/4..bukan berarti kamu punya pacar yang lain…Tidak..
    Yach…tetap berteman dengan pria lain..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: