Ketika nyawa legal untuk diregang

26 Juni 2008, diperingati sebagai hari anti narkoba internasional. Banyak kegiatan yang dilaksanakan memperingati hari ini. Antara lain, pemusnahan sejumlah barang bukti hasil sitaan kepolisian dan pihak terkait, seperti bea dan cukai. Serta eksekusi terhadap dua orang warga negara asing, Nigeria malam ini (katanya).

Kedua orang itu adalah, Samuel Iwachekwu Okoye dan Hansen Antony Nwaoysa. Kedua orang ini sudah divonis mati sejak tahun 2001, dan kekuatan hukumnya sudah final dan sudah tetap.

Merinding juga aku membayangkan bagaimana perasaan mereka itu. Kematiannya sungguh jelas di depan mata, mereka bisa membayangkan dengan apa nyawa mereka dihabisi. Ah, pasti tak enak rasanya di posisi itu. Kedua terpidana mati itu, saat ini berada di LP SMS (Super Maximum Security) Pasir Putih, Nusa Kambangan. Beberapa hari yang lalu, saat petugas dari kejaksaan Tangerang datang ke Nusakambangan, untuk memberikan surat keputusan eksekusi terhadap dua orang ini, yang akan dilaksanakan dalam minggu ini, terjadilah keributan di LP Pasir Putih. Kericuhan yang mengakibatkan kerusakan pada beberapa bangunan LP, antara lain, kantor administrasi, ruangan besuk, yang menimbulkan suasana mencekam di LP SMS itu. Yang berbuntut pada pemindahan para pembuat onar ke beberapa LP yang tersebar di pulau Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Ada 52 orang yang diidentifikasi ikut dalam kerusuhan tersebut. Mereka masing –masing dipindahkan, 8 orang ke LP Permissian, 10 orang ke LP Lembang Kuning, 10 orang ke LP Batu, 12 orang ke LP Narkotika, dan 12 sisanya ke LP Batu. 52 orang ini, terdiri dari 33 terpidana mati dan 19 orang lainnya seumur hidup.

Melihat komposisi orang yang melakukan kerusuhan ini, mungkin mereka-mereka ini sudah putus harapan. Tidak ada pilihan selain mati bagi mereka. Dan bisa juga, mereka sudah mulai diliputi ketakutan, untuk yang hukuman mati. Karena, mungkin ada beberapa diantara mereka yang selama ini, masih berfikiran, eksekusi masih jauh, karena pda prakteknya, dari 72 orang terpidana mati narkoba, baru 3 yang sudah di eksekusi mati. 1 orang sudah mati di lapas, 5 orang diubah status hukumnya menjadi seumur hidup, dan 1 orang jadi hukuman 15 tahun penjara. Sehingga sisanya menjadi 62 orang. Kalau eksekusi itu betul akan dilaksanakan pada tanggal 26 Juni, maka nanti tinggal 60 orang terpidana hukuman mati untuk kasus narkoba.

Dan ternyata, itu terjadi, betul saja, aku lihat di tayangan berita hari ini. Bahwa tadi malam jam 23.30 dua orang terpidana mati warga negara Nigeria itu, sudah dieksekusi oleh regu tembak dari Brimob Polda Jawa Tengah. Dan pada pukul 24.00, dinyatakan resmi telah meninggal dunia, setelah terlebih dahulu di otopsi di Poliklinik LP Nusakambangan.

Informasi nya simpang siur, ada yang menyebut, algojo nya ada 24 orang, ada yang menyebut 10 orang, yah hanya Tuhan dan pihak-pihak terkaitlah yang tau itu. Dan di tayangan TV tadi pagi, aku lihat dan dengar bahwa sampai terakhir sebelum di eksekusi pun, para istri terpidana tidak sempat berjumpa dengan suami mereka. Waduh, kog untuk ketemu istri di saat-saat terakhir juga tak bisa yah? Bukankah itu bagian dari hak mereka?Apalagi kalau mereka sampai punya anak, masa tak diijinkan?

Aku sendiri, di awal setuju dengan adanya hukuman mati, yang semula diperuntukkan untuk menimbulkan efek jera untuk calon pelaku, calon bandar besar narkoba, serta untuk memutus mata ranrtai perdagangan narkoba internasional. Tapi, pada prakteknya, aku lihat, bahwa ternyata banyak yang sudah di vonis mati, sudah pada kekuatan hukum tetap, toh tidak di eksekusi-eksekusi juga. Apa lagi yang mau ditunggu? Kalau kekuatan hukumnya sudah tetap? Malah dengan adanya rentang waktu yang cukup panjang untuk mereka, jadi mereka sempat mengendalikan peredaran narkoba dari balik jeruji besi. Semakin menjadi –jadilah mereka itu. Ga usah banyak-banyak di vonis mati, satu dua aja di awal, tapi kalau langsung di dor, sudah akan menimbulkan efek jera yang luar biasa. Sampai segini banyakpun yang di vonis mati, kalau pada prakteknya tidak ada tindakan yang jelas, untuk apa juga? Toh orang tidak akan kapok. Karena mereka fikir, toh bisnis itu mendatangkan uang yang banyak. Masi ada kesempatan untuk melakukan bisnis haram itu. Sekalipun dari balik penjara mereka masih bisa melakukannya. Dan mereka bisa sesuka-suka hati melakukannya, karena ada oknum aparat hukum, yang selalu silau dengan rupiah yang mereka tawarkan. Bahkan sampe ada sipir penjara yang jadi kurir mereka, yang akhirnya tertangkap di depan LP Cipinang Narkotika.

PR penting untuk semua aparat hukum kita. Untuk lebih tegas dan konsisten dalam melaksanakan hukum.

Balik ke masalah hukuman mati, aku tidak setuju. Karena itu menyangkut nyawa seseorang, bagiku, yang berhak menentukan nyawa seseorang hanyalah Tuhan, kecuali orang nya sendiri yang bunuh diri, itu lain.

Memang, kebanyakan orang menganggap itu adalah hal terbaik, karena lebih baik mengeksekusi nyawa satu orang, daripada mengorbankan jutaan nyawa generasi muda. Tapi, tetap saja aku tidak setuju dengan hukuman mati.

4 Tanggapan to “Ketika nyawa legal untuk diregang”

  1. Farida Simanjuntak Says:

    Sekitar tahun 2003 aku pergi ke Nusa Kambangan dengan rombongan Fakultas Hukum Univ. Pakuan Bogor. Kebetulan saat itu ada mata kuliah Kriminologi.
    Melihat kehidupan para nara pidana di sana bermacam persaan yang ada. Geram, sedih, dan kasihan. Mereka dilapisi sampai 3 pintu. Belum lagi di bagi dalam kelas yang bebeda sesuai tingkat kejahatan.
    Sampai saat ini hukuman mati9 masih menjadi pro dan kontra di dunia ini. Memang rasanya ga adil, manusia behak mengambil nyawa orang lain. Tapi di sisi lain, karena kejahatan terpidana mati banyak orang yang jadi korbannya. Memang berat juga, tapi inilah hukum dan kehidupan “harus memilih.”
    Tapi aku lebih setuju lagi kalau hukuman mati benar-benar dijatuhkan kepada pejabat yang korupsi seperti di China. Supaya kapok.. Rakyat ga miskin dan susah terus… Karena para pelaku korupsi urat malunya udah mati. Dan hampir ga ada yang bisa brubah, malah makin menularkan penyakit korupsi.
    Jadi, ada baiknya juga hukuman mati dijatuhkan untuk memberi ultimatum bagi calon-calon pelaku kejahatan lainnya..

    Partalitoruan
    Aku akan sangat setuju eda, kalau hukuman mati itu dilakukan tepat pada fungsinya. Fungsinya menimbulkan efek jera untuk calon pelaku kejahatan, toh?Kenapa diulur2 sampai lama sekali?Apalagi untuk penjaha seperti narkoba dan korupsi, langsung cepat dilaksanakan, kenapa ngga?Untuk yang teroris juga, karena yang lain jadi ikut-ikutan.Kalau tegas, pasti tak akan sebanyak itu yang mengantri untuk dieksekusi.
    Aduh eda, aku ngiler mendengar cerita eda pernah berkunjung kesana. Aku agak lain eda, dari dulu aku ingin melihat dari dekat kehidupan mereka…Apalagi penjara pemuda dan wanita.Kek mana sih sebetulnya disitu?Aku pengen kali la da liat…Sayangnya waktu kuminta waktu itu kuliah hukum sama tulangmu itu, tak dikasinya bah!Ah, tak ada yang tikkos pengacara itu ninna poang😀

  2. Hukuman Mati, tidak akan pernah efektif ketika rule of law tidak dijalankan sesuai dengan azas hukum itu sendiri. Siapapun mengakui bahwa penegak hukum kita masih lebih mementingkan rule by law.

    Ada kalimat bijak mengatakan, ciri keadilan hukum ibarat pensil, satu ujungnya sangat tajam, bahkan bisa menembus kulit, tapi jangan lupa, di ujung lainnya ada penghapus.

    Mauliate bah Bere….

    Partalitoruan
    Mauliate atas kata-kata bijaknya tulang😀

  3. IRWAN SIMATUPANG Says:

    Di dunia fana ini tidak ada keadilan lagi, hanya pengadilan yang ada, mari kita serahkan kepada Dia Sang Pencipta.

  4. humbang hasundutan Says:

    Tentang pelaksanaan hukuman mati, mengapa si terhukum harus di beritahu? Sudah akan menghadapi kematian, mengapa di siksa lagi bathinnya sedemikian rupa? Bukankan sebaiknya diciptakan suasana dimana si terhukum tidak tau apa apa? Dan sebaiknya lagi, penjara seumur hidup sajalah.

    Mengapa hukuman terhadap penjambret, penodong, maling, dll. yang nyata nyata melukai bahkan membunuh korban, tidak disamakan dengan hukuman terhadap pengedar narkoba itu? Dari segi akibat, korban/calon korban dari pengedar narkoba mempunyai pilihan apakah akan mengkonsumsinya atau tidak. Tetapi korban kebiadaban para penjambret/maling itu tidak ada pilihan, langsung dihabisi.

    Bukankah selayaknya hukuman terhadap pengguna senjata itu lebih berat?

    Partalitoruan
    Pada awalnya, mungkin hukuman mati diadakan, untuk menimbulkan efek jera.Tapi kenyataan di lapangan, diulur-ulur, jadi mereka masih bisa mengendalikan bisnis itu dari balik penjara, berhubung mental sipir penjara juga kita tau sendiri seperti apa.Jadi, tidak efektif lah cara itu. Narkoba itu tak akan berkembang kalo memang tak ada konsumennya.
    Setuju….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: