Maafkan Tuhan, aku meragukanMu….

Akhir pekan begini, rasanya pantas lah aku sedikit memanjakan badanku ini, setelah salama seminggu ini, kupaksa dia untuk mengejar setoran ke rumah. Ah, mantap kali memang pijatan pak Urip ini, mantapppp, rasanya peredaran darahku lancar lagi. Sampe-sampe aku ngantuk dibuatnya.

Samar-samar aku dengar ada suara orang menangis, bukan-bukan, lebih tepatnya seperti meraung. Bah, siapa yang meraung siang-siang begini? Apa aku salah? “Papa, ada tante Dona datang, nangis-nangis” kata putri kecilku. Tak salah rupanya, betul ada yang menangis. Aku langsung kaget, dan setelah aku buru-buru pake kaosku, aku langsung menjumpai adek sepupu ku itu. Sebetulnya, dia bukan sepupuku, dia tinggal di rumah kami semenjak anak-anakku masih kecil. Dan saking baiknya, dia sudah kuanggap seperti adekku sendiri, begitu juga dengan anak-anakkku, mereka sangat akrab dengan tante Donna mereka itu. Dari mulai gadis, dia sudah tinggal di rumah kami, dia baru meninggalkan rumah kami, setelah dia bertemu dan menikah dengan seorang pria yang aku tau sangat baik hati, dan sangat bertanggung jawab terhadap keluarganya, sekalipun pekerjaannya hanya sopir angkot. Dan setelah berkeluarga, adekku Donna, memutuskan untuk berjualan sayur mayor di pasar pagi dekat rumahnya, untuk membantu suaminya. Dia sudah punya satu anak, yang kira-kira berumur 3 tahun. Lucu, pintar, dan nakal khas anak kecil.

Aku lihat, dia sambil menggendong anaknya di punggungnya, dia masih terus menangis. Tangisannya sungguh menyayat hati, ada apa ini gerangan? Aku coba tenangkan dia, supaya dia bisa mulai bercerita, karena sedari tadi, dia hanya menyebut “lae muna ito, lae muna”, entah apa yang terjadi dengan suaminya. Akhirnya, dia pun bisa tenang dan mulai bercerita bahwa saat ini, suaminya sedang dirawat di rumah sakit UKI, karena menderita Demam Berdarah dan keadaannya sudah sangat kritis. Bah! Tanpa piker panjang, dan tanpa pake mandi lagi, kami langsung bergegas berangkat ke rumah sakit. Sesampainya disana, benar saja, lae itu sudah tidak berdaya. Keadaannya sudah kritis, dan dokter sudah menyarankan dia untuk dimasukkan saja ke ICU, dan perlu donor darah. Dan sebelum masuk ICU, perlu ada deposit 5 juta di awal. Dan butuh kurang lebih 8 kantong darah, dimana harga satu kantongnya 100ribu, dan untuk saat ini, rumah sakit tidak ada persediaan darah, jadi harus ke PMI, belum lagi obat yang harus disuntikkan, supaya kondisinya ga makin drop. Bah!aku langsung gale. Satu sisi, tak tahan aku melihat penderitaan lae dan itoku itu, di sisi lain, keuanganku terbatas. Memang bukannya aku kekurangan,tapi setelah aku cek di atmku, tipis-tipis cantik lah saldoku. Aku langsung berdoa, meminta sama Tuhan, jangan sampai dia meninggal saat ini, kalau tidak, repot nanti urusannya, siapa yang mau urus? Dari mana uang untuk urus, kerabatnya pun tak ada di Jakarta ini, paling hanya beberapa teman satu marganya saja. Akhirnya, aku berfikir, untuk mendahulukan darah dan obatnya saja dulu. Sambil menunggu darah datang dari PMI, kami dan suster-suster disana, terus berusaha untuk menaikkan stamina dan trombosit laekku ini. Mulai dari Pocari Sweat, obat, sampe semuanya lah itu😀. Tanpa sengaja, suster-suster disana mendengar pembicaraanku dengan itoku yang sedang kemalangan itu, mereka akhirnya tau bahwa kami bukanlah saudara sekandung. Mendengar cerita itu, hati mereka trenyuh, bagaimana mungkin bukan saudara sekandung, tapi mati-matian berjuang untuk menyelamatkan nyawa si sakit ini? Kalo katanya selama ini suster-suster batak galak-galak, kali ini aku lihat pemandangan yang sangat mengharukan, si galak-galak itu memberikan semua bantuan yang mereka bisa kasi, mulai dari obat, perhatian, doa, semuanya. Akhirnya perlahan-lahan ternyata kondisi laeku itu, naik. Dan salah satu suster mengatakan untuk tidak usah dimasukkan ke ICU, kita akan usahakan terus supaya kondisinya naik, dan trombositnya naik terus. Sambil berdoa, semua usaha kami lakukan. Dan, ya Tuhan itu baik, kondisi laeku itu semakin membaik.

Tapi, aku belum bisa langsung lega, karena masa kritisnya belum sepenuhnya lewat. Kami masih terus berjaga sepanjang malam. Kebetulan besoknya minggu. Minggu siang, datanglah kira-kira 30an orang untuk membesuk laeku itu, ternyata belakangan aku tau kalo mereka adalah teman-teman satu arisan marga laeku itu.sepertinya mereka rata-rata dari golongan menengah ke atas, apalagi melihat gaya perempuannya, sudah seperti toko mas berjalan. Melihat penampilan mereka dari luar, secara manusiawi, aku langsung mulai berfikir, nanti amplop mereka ini pasti lumayan untuk meringankan pembayaran ke rumah sakit. Sepulangnya mereka, aku tanya adekku, apakah ada amplop dari mereka, kata adekku, ada. Maka kamipun mulai mengambil di tempat di sudut rumah sakit itu, untuk mulai menghitung jumlah uang yang ada di amplop-amplop itu. Bah sampai akhir amplop terakhir yang kami buka, tak ada pecahan uang yang lebih besar dari 10ribuan. Bah, aha do na masa on? Laos holan 200ribu ma pungu sude. Na boha do rohani sada-sada? Tapi, ya sudah lah, mungkin aku harus lebih pasrah. Aku langsung ada ketakutan, akan mengeluarkan uang banyak untuk membantu biaya rumah sakitnya, manusiawi sekali menurutku. Ah, aku hanya bisa pasrah saja.

Tak lama, datang gerombolan persatuan supir, teman-teman laeku itu. Ah, aku sedikit pesimis dengan kedatangan teman-teman laeku ini, karena aku fikir, toh orang-orang mampu aja Cuma segitu-gitunya, apalagi mereka ini, toh aku cukup senang, berarti laeku itu cukup baik dalam pergaulan, sampai teman-temannya itu menyempatkan waktu untuk datang, dan meniggalkan kerjaan mereka sementara. Akhirnya, mereka pamitan mau pulang, aku langsung berdiri, untuk menyalami mereka satu-satu sambil mengucapkan terima kasih, mereka memberikan amplop ke tanganku, atas saran dari adekku. Aku menolak, aku katakan harus tetap diberikan kepada adekku itu. Setelah mereka semua pulang, kami membuka amplop dari parsadaan supir, teman laeku itu. Dan kamipun sangat terkejut melihat isinya, 2 juta rupiah, yang terdiri atas uang-uang yang sudah lecek, yah kek mana lah uang dari hasil narik angkot. Ah, aku langsung malu sama diri ku sendiri. Aku udah salah menilai. Dan aku juga malu sama Tuhan, karena aku meragukan kemurahannya dalam mencukupkan semua apa yang dibutuhkan. Ternyata benar, Tuhan itu baik, sangat baik.

Laeku pun bisa keluar rumah sakit, tanpa kami harus ngutang dan pusing kesana sini, dan laekupun sehat lagi. Tak lama berselang, adekku itu datang ke rumah, ingin mengucapkan terima kasih, dan mencicil uang biaya rumah sakit suaminya itu. Aku kaget, betapa adekku dan suaminya itu sangat bertanggung jawab, belakangan aku kembalikan uang itu, sebagai tambahan modal adekku itu untuk berdagang. Dan satu hal, aku bangga padanya.

P.S

Mauliate tulang, udah jadi inspirasi tulisan ini😀

6 Tanggapan to “Maafkan Tuhan, aku meragukanMu….”

  1. Farida Simanjuntak Says:

    Terharu….
    Itu yang kurasakan… Eda, dari dulu entah kenapa ku tidak terlalu suka bergaul dengan orang-orang yang menganggap dirinya dari golongan orang mampu dan berada. Karena mereka biasanya menolong dengan ada imbalan. Sedangkan orang yang hanya dari kelas “biasa” tidak. Aku selalu terinspirasi dengan ayat di Alkitab yang mengatakan “memberi dari kekurangan kita”
    Pengalaman hidupku yang hanya sedikit sudah banyak mengajarkan ku untuk lebih menghargai mereka yang kadang dipinggirkan. Justru mereka inilah kawan “yang sebenarnya”. Istilah mereka, sudah kenyang hidup susah jadi saat ada orang susah, mereka pun akan membantu tanpa pamrih…
    Tapi diatas semua itu, TUHAN memang sangat baik dan menakjubkan..
    Kadang, aku pun terlalu egois dengan kesibukanku dan menjadikanNYA nomor yang kesekian…
    Maafkan aku Tuhan dan Terima Kasih untuk KasihMU…

    Partalitoruan
    eda tau kan siapa inspirasinya ini ?😀

  2. Farida Simanjuntak Says:

    Ise tahe eda ??
    Adong do nian hu tebak alai ragu au…🙂

    Partalitoruan
    Beasa ragu eda akan si Nai Malvinas🙂

  3. Naburju ma attong Nai Malvinas i🙂
    Sai dipasu pasu Debatama na ni ula ni tanganna.

    Partalitoruan
    Ima dah tulang, sai lam godang ma nian na songonon ateh tulang.

  4. srikandini Says:

    jangan pernah menilai sesuatu pa lagi manusia hanya bersadar tampilan kulit luarnya saja…

    kadang kita terlalu cepat men-judge sesuatu hanya dr apa yg kt lihat, bahkan penilaian itu mendahului penilaian Allah…

    tapi itulah MANUSIA…

    tampilan yg bagus dan wah… kadang malah membuat kita menyingkirkan hati nurani, terpukau pada apa yg kta lihat dan abaikan apa yg harusnya kita rasakan…

  5. hidup itu bak fatamorgana,
    kadang pa yg kita lihat, pikir tak sesuai harapan atau pun kenyataan,
    hidup……

  6. Andi Zulkifli Says:

    Caritanaji lompo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: