Kuselesaikan dengan baik..(dengan caraku)

Terus kupeluki tubuhnya yang sudah semakin kurus, sambil kupandangi wajahnya yang sudah makin tua, tapi tetap cantik. Ah, wanita perkasa ini, fikirku.

Walaupun sudah dari tadi dia memejamkan matanya, aku tau dia belum terlalu nyenyak, dia masih terjaga dari tidurnya. Dia masih mengharapkan, ayahku akan segera pulang, dan dia akan segera membukakan pintu untuknya, begitu mendengar suara motor tua bapakku itu. Tapi sudah hampir sejam dia tertidur di sampingku, tak ada juga tanda-tanda suara yang dia inginkan itu, datang. Ah, ibu sudah lelah aku mengingatkan mu jangan terlalu menunggu ayah, tapi kesetiaanmu sebagai istri yang baik,tidak perduli dengan kantukmu, dengan badan letihmu seharian bekerja dan mengurus rumah, tidak membuatmu mudah menyerah menunggu kepulangan bapak.

Berdagang di pasar, subuh ibuku sudah berangkat. Sebelumnya, dia sudah sediakan sarapan pagi untuk kami. Nanti, sepulang berjualan, dia sudah memasak lagi untuk makan malam, sambil membereskan rumah, dan menanyakan kami semua, apa yang bisa ibu bantu. Ah, ibu, kau sudah terlalu lelah, mari kesini kupijit kakimu.

Oia, namaku Aida, dan aku anak pertama dari empat bersaudara, hanya aku wanita. Adikku yang paling bungsu, baru berumur 4 tahun. Umurku,baru 14 tahun, tapi keadaan menempa dan memaksa aku, harus berfikiran jauh lebih tua dan lebih maju dari umurku. Pertama sadar dengan keadaan ini, aku sempat protes, apalagi melihat teman-teman seumurku, yang sedang asik bermain, berjalan-jalan dengan teman dan keluarga, sementara aku sibuk menggendong adek-adekku, mengurus rumah, membantu membuat PR adek-adekku, PR ku, membantu ibuku berjualan di pasar. Tapi, aku mau protes ke siapa? Ke ibuku? Mana mungkin aku tega? Melihat keringat yang bercucuran di keningnya saja, rasanya aku sudah ingin menyeka nya, ingin memeluknya, dan katakan, ”nunga tung loja ho inang, dia ma hu ula ulaon mu”, ah tapi kutahan keinginan itu, air mataku pasti menetes pada waktu mau mengatakannya. Kutahan diriku untuk tidak mengatakannya.

Seperti malam-malam sebelumnya, sekitar jam 3 subuh, rumah berisik, terdengar suara pintu digedor dengan keras. Lalu terdengar jeritan ibuku, terdengar tamparan, terdengar suara-suara gaduh, terdengar makian, terdengar tangisan ibuku, menyayat hati. Ah, langsung kututup telingaku, sambil aku terus berurai air mata. Kadang,kalau adikku sampai terbangun, aku berusaha mendiamkan dan menenangkan mereka, supaya mereka tidak ikut histeris. Menurut cerita ibuku, keadaan ini sudah berlangsung semenjak 12 tahun yang lalu. Kuhitung-hitung, mereka sudah 15 tahun menikah. Berarti manisnya perkawinan itu hanya dirasakan ibuku selama kurang lebih 2 tahun saja. Katanya, bermula ketika ayahku kecewa, kenapa bukan anak laki-laki yang lahir, kenapa justru perempuan? Tapi, selanjutnya dia dapat tiga anak laki-lakipun, tetap aja bapakku menggila. Ah, entah apa bedanya laki-laki dan perempuan. Katanya karena kami ini keluarga Batak, so? Kenapa rupanya? Ah, entah begu mana yang buat aturan itu?

Dan kali ini, malam ini itu terjadi, aku sudah susah payah meringsek masuk ke antara ibu dan bapakku, untuk menjauhkan bapakku, supaya pukulan dan hantaman itu berhenti. Tapi, yang ada mukaku terkena tonjokan juga, dan akhirnya ibukupun menangis, dan memelukku, supaya tidak makin dipukul bapakku. Yang ada, punggung ibukulah sekarang yang jadi sasaran.

Dua tahun berlalu, dan malam selalu seperti malam sebelumnya, kami lewati dengan perasaan takut, tidak tenang, gelisah, semuanya perasaan tidak enak, bercampur disana. Apalagi adekku, sudah semakin mengerti dengan apa yang terjadi. Apalagi adekku yang paling kecil dia tidak mau lagi dekat dengan bapakku sama sekali. Aku pun sudah muak dan jijik dengannya. Bagaimana mungkin, dia bisa duduk-duduk nongkrong di lapo itu, sementara ibuku sudah seperti buruh angkat di pasar sana. Tapi, dasar ibuku orang baik, dia selalu melarang kami untuk benci laki-laki itu, dia selalu meminta kami untuk berdoa untuk perubahan hatinya.

Masih seperti itu juga, entah sudah malam yang keberapa malam ini?Seharian ini , aku tidak pergi ke sekolah, aku katakan pada ibuku, bahwa aku kurang enak badan, jadi sehabis membantu ibuku di pasar, dan mengurus keperluan adek-adekku ke sekolah, aku pun ke rumah. Aku cari-cari kesana kemari, tak ada benda yang berbau tajam. Ah, akhirnya aku melihat jari di roda sepeda tua ompungku yang sudah tak dipake lagi. Akhirnya aku ambil 5 buah, dan itulah yang aku asah. Sudah cukup tajam. Dan aku pun selipkan di balik pintu dapur.

Sekitar jam 10 malam, sewaktu menidurkan adikku yang paling bungsu, dia mulai menyampaikan ketakutannya malam ini. Aku katakan supaya dia tidur saja dengan nyenyak, aku berjanji tidak akan ada keributan, dan mulai besok,dia tidak usah takut dengan keributan yang ditimbulkan oleh bapak kami. Mulai besok dia akan tidur dengan tenang.Aku janji, adekku. Dan maafkan aku kalau aku harus melakukan nya dengan caraku.Aku merasa, aku lah yang harus bertanggung jawab terhadap kalian, karena bapak kita tidak becus.Harusnya, dia lah yang bertanggung jawab terhadap nafkah dan kehidupan kita. Alih-alih mencari nafkah, dia yang ada selalu menggerogoti uang ibu, dan juga menciptakan trauma untuk anak-anak nya, sementara untuk ambil tanggung jawab itu, aku masih jauh, dan aku belum sanggup. Aku putuskan untuk mengurangi beban ibu, menciptakan ketenangan untuk adek-adek ibuku.

Begitulah, laki-laki yang meperistri ibuku, selama 17 tahun itu, aku habisi malam itu. Dengan bermodalkan 5 jari roda sepeda yang sudah aku runcingkan menjadi sangat tajam, aku menusukkan nya tepat di jantung hatinya, aku fikir penderitaan ibu dan adek-adekku akan berakhir sudah….Cukup aku yang menjadi korban. Biarlah…..

10 Tanggapan to “Kuselesaikan dengan baik..(dengan caraku)”

  1. Farida Simanjuntak Says:

    Bah, eda….
    Ai ngeri ma cerita mon…..
    Nga lagi masihol au tu huta lam lungun hurasa manjaha cerita on…

    Ah, tahe… sai unang ma adong nian cerita songon on dalam kenyataan hidup ni angka dongan ta…

  2. moramona Says:

    dua bintang. Cerpen ini termasuk aliran my dear diary. kenapa berakhir dengan modal 5 jari sepeda?toh Ia akan mati karena kecanduan alkohol tuak! btw jk ini di dunia nyata, masihkah berlaku mencari pacar (buat gadis) seperti figur bapakku?

  3. lohot simanjuntak Says:

    oi roida sarupa do artini dohot robereng?
    ndang siulahonon songoni itokku

  4. bah eda…
    hampir ada cerita yang sama bgini di balige juga
    tapi mamanya yang jahat..
    ale nian dang sampe mate..
    i pasaki gellengna ala marhalleti omakna,
    gabe bapakna mangarorot dohot martiga2
    alai sai unang ma sahat on tu hita be ate eda..
    masihol iba mambaen comment i belog ni eda on..
    biasa ma eda lalap masisontokan dohot amang bao..
    iba lalap menderita dang i bereng eda…
    hihihihihih

    Partalitoruan
    beasa dang hea huboto na adong na masa songoni di hutanta ate eda?

  5. Monang Naipospos Says:

    Kisah seperti ini bisa saja sudah terjadi. Penderitaan ibu berakhir dan dimulai kembali denan penderitaan baru bila anaknya terhukum di penjara. Sai unang be masa sisongon i. Cerita ito ini menjadi warning tu ama2 na so tarpareso😦

  6. Salam kenal untuk kita semua….

    Ito Aida… aku berulangkali membaca ceritamu… aku terkesan… sungguh, ada satu hal/pesan yang aku dapat dari cerita itu….

    Pesan itu adalah aku harus lebih meningkatkan sikap suami yang baik dan papa yang baik.

    Memang, sebagai seorang suami, seharusnya bisa memberikan perlindungan dan kasih sayang terhadap istri…..
    Bagiku, istriku adalah pendamping dan penolongku yang setia, dialah yang paling baik, paling perhatian dan paling cantik….
    Jadi, pantaslah dia aku manja… aku puji setiap saat….

    Akupun tidak lupa setiap pagi menciumnya dan mengucapkan, Honey… kau adalah anugerah terindah dari Tuhan….
    Biasanya dia akan katakan, “…thanks honey… u r the best…”

    Akupun mensyukuri kehadirannya dalam hidupku…

    Begitu juga terhadap anak-anak…

    Bagiku, suatu kehormatan menjadi seorang ayah untuk dua putraku…. aku tidak mau membuat mereka harus terbangun ketika aku pulang malam… rasanya kasihan, jika mimpi-mimpi indah mereka terganggu kalau aku membuat mereka terjaga….

    So…. saat membaca ceritamu to, aku membayangkan edamu dirumah…. dan berharap kalau bisa, setiap hari aku pulang, aku mau bawa bingkisan aja…. agar dia tambah sayang….

    Harapanku…. kepada semua itoku dimanapun berada yang belum dapat rongkap…. semoga mendapat suami-suami yang Cinta dan takut Tuhan…. oiya to, kunjungi blogku di
    http://tupadopanggabean.blogdetik.com

    thanks, GBU

  7. Hmmmm hanya itu yang keluar dari mulutku ketika selesai membaca ceritamu ini ito… sekali-sekali buka http://www.santrov.multiply.com ya ito.. tinggalkan cot=retanmu yang indah disana… saya makin salut sama kau ito.. dengan ketulusan persahabagtan di tobadream ehhh ketemu lagi di semanggi.. horasma

  8. srikandini Says:

    arogansi laki2 batak… dan pengabdian buta perempuan batak….

    harapan ku… cukup lah kebodohan seperti ini hanya ada di masa lalu…

    kenapa harus ANAK LAKI2????

    padahal kalo dah tua mereka… ttp aja kembali ke anak perempuan yg mengurus merawat mereka… sementara si menantu…. cm bisa pura2 prihatin!!!

    Partalitoruan
    Aku pun menanggapi selalu dengan marah itu ka
    tapi, sekarang aku bertekad membuktikan kualitas ku sebagai boru, supaya mereka bisa say Thanx God that they have daughter, also son

  9. Setuju sama ito srikandini, ketika membaca cerita ini saya terbayang ke kampung halaman, walaupun hanya cerita fiktif, bisa dibilang seperti inilah keadaan umum di Tano Batak sana, si Bapak di lapo bak tuan tanah, sedangkan si Ibu bekerja keras untuk menghidupi anak2nya……

    Hampir saja saya meneteskan air mata (mengingat Ibu-ku di Bona Pasogit sana) kalau saja tidak segera sadar ini hanya sebuah cerita….

    Btw, nice story…

    Horas!!

  10. batahi wastin Says:

    kisah nyata do on?
    dapot sian dia artikel on?
    mudah2an kesalahan naung terjadi dengan menghakimi orang tua sendiri dang terulang..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: