Pemborosan…

Di perjalanan pulang makan siang kemarin, aku lihat di daerah Dewi Sartika, rumah yang tidak terlalu luas, tapi tinggi, yang dijadikan kantor partai berlambang Pohon Beringin. Dari gayanya, aku lebih melihat rumah itu pantasnya sebagai rumah tinggal, bukan kantor, karena aku juga lihat ada jemuran baju segala.

Bermula dari komentarku tentang rumah itu, aku pun komentar sama si Tapak. Aku bilang, “heran yah banyak kali pun partai politik untuk pemilu ini yah, dia jawab “naung moru do i, sebelumnya kan 40 an, sekarang holan 30 an do” iya juga yah fikirku. Tapi kalau difikir dan dibandingkan dengan jaman dulu, dimana partai cuman ada 3. Mudah diingat, lalu untuk anak-anak sekolah juga tak susah menghapalnya, karena tak jarang itu juga masuk dalam pelajaran atau bahkan ujian.

Mudahnya syarat membuat partai, dan banyak nya orang yang berambisi untuk menjadi pemimpin, terkenal dan juga ingin menikmati uang negara, berlomba-lomba mendirikan partai. Toh tidak susah kan, kalau pun tidak lolos verifikasi, bisa nempel ke parpol lain, kecipratan juga.

Dan satu hal lagi yang jadi pertanyaanku, kenapa negara ini, khususnya komisi-komisi yang berkaitan dengan kegiatan Pemilu ini, tidak bisa melakukan penghematan? Bukankah barang-barang yang dipakai pada pemilu sebelumnya, masih ada beberapa yang bisa dipakai? Misalnya, kotak suara. Sedari awal. lebih baik pemerintah melakukan investasi untuk hal ini, jadi sekalian mahal dan bermutu, tapi bisa dipakai untuk seterusnya, jadi biaya tidak terus menerus membengkak. Kemudian, ada beberapa faktor lain, yang mungkin dianggap sepele, tapi sangat berpengaruh terhadap pembengkakan budget. Seperti misalnya, untuk ongkos cetak, akan membengkak seiring dengan banyaknya partai yang ikut dalam pemilu, dan untuk ukuran kertas yang diperlukan makin besar pula. Itu korelasinya ke cost yang semakin besar juga kan… Dan sepertinya penyakit ini juga sampai ke daerah, kalau difikir-fikir, setiap ada pilkada di daerah yang berdekatan, atau misalnya satu kawasan, atau di bawah satu naungan pemerintahan, bisa sharing peralatan yang bisa dipakai bersama untuk keperluan pilkada, dengan demikian, costnya kan bisa ditekan. Tapi dasar aja semua orang mau merasakan kecipratan uang negara makanya tidak memikirkan bagaimana hematnya. Tapi semuanya sibuk memikirkan bagaimana caranya supaya dana mencair. Bagi jenis partai yang tidak fokus dengan uang melulu, bagaimana caranya supaya politik praktisnya bisa diterapkan di negara ini, bagaimana caranya supaya calonnya bisa duduk di pemerintahan, tapi itupun ujung-ujungnya duit juga toh.

Aku jadi mikir, pemerintah cuman tau ngomong doang. Sehubungan dengan krisis yang dialami negeri ini, beberapa waktu lalu, presiden mengajak masyarakat untuk lebih berhemat dan menilai masyarakat Indonesia ini, adalah jenis masyarakat yang boros dan terlalu konsumtif. Ayo jangan ngomong doang dong, buktikan mulai dengan berhemat dari situ dulu pak Pres. Jangan ngomong aja, tertibkan dong jajaran2 nya.

Padahal, kalau difikir dari segi marketingnya, semakin banyak pilihannya, maka kemungkinan untuk menjadi pilihan utama itu akan sangat kecil. Kecuali dia punya suatu hal yang tidak dipunyai parpol lain. Selain itu, harus jelas juga, ”target market” parpol itu siapa, apa dan rentang umur berapa. Jangan salah, yang terakhir ini berpengaruh banyak. Karena, tidak bisa dipungkiri, bahwa untuk rentang umur yang sudah tua-tua, image mereka udah terpatok ke tiga nama partai yang dulu itu, gimana ga, sekian puluh tahun mereka itu merajai kancah politik Indonesia. Kedua, nomor sangat menentukan dalam kemenangan salah satu parpol, kecuali orang yang sudah fanatik dengan satu partai, tak perlu hapal nomornya, tinggal lihat gambarnya saja. Semakin sulit nomor itu dihapal, maka makin sulit untuk kemungkinan dapat banyak suara. Kemudian, gambag-gambar parpol sekarang aku lihat, aneh-aneh. Macam nda ada aja filosofi dibalik pemilihan lambang itu. Bukankah lambang itu bisa mewakili dalamnya partai itu? Tapi, sepertinya itu sudah mulai terabaikan, asalma adong.

Aku sewot dengan suasana negara ini saat ini. Ga cara pemilunya lah, kondisi perekonomiannya, pemerintahannya, sude ma i. Si Tapak bilang, namanya juga masih dalam tahap belajar. Ah, aku makin sewot, sudah 63 tahun negara ini merdeka, tak selesai2 juga dia belajar, umurnya pun sudah tua, entah kapan lagi dia akan bergegas.

5 Tanggapan to “Pemborosan…”

  1. Banyaknya partai, adalah cermin makin banyaknya orang yang butuh pekerjaan, makin membludaknya manusia yang butuh jalan mencari makan.

    OOT: Kekna ada yg mendedikasikan tulisannya – yang sayangnya ga begitu bagus – untuk pemilik blog ini deh.

    Partalitoruan
    Entah apa kata diatas mauliate untuk apresiasi itu bang.Percakapan singkat yang sangat membekas di hatiku bang🙂

  2. Farida Simanjuntak Says:

    Eda….
    Para petinggi negara ini kira-kira masih ingat ga ejaan “HEMAT” dan “BOROS” ???
    Kalau ejaannya aja mereka udah lupa, gimana mau tahu artinya ??? Apalagi nerapinnya ???
    Ngomong2 ttg Parpol yang banyak, kan gampang buat papol… So kita buat partai aja, namanya “Partai Cewek Batak Tangguh”, hahahahah (paganjanghu ate..)😉

  3. Nana Simarmata Says:

    iya aku juga sewot sama negara kita tercinta ini..
    intinya kita sama2 sewot donk ya.
    btw kok blog kamu hilang dari blogrollnya amang pdt daniel ya…jawab ya

    Partalitoruan
    Salama kenal ya ka Nana,
    wah masalah namaku hilang dari blgroll pdt.Daniel, aku rasa lebih baik tanya sama yang bersangkutan ya ka🙂

  4. rapmengkel Says:

    kalau konsepku sebenarnya :
    1. bukan untuk boros2an…, tapi ya seperti yang ditulis di atas; bagi2 rejeki lah namanya. kalaupun nanti ada developper atau mitra kerja partai yg gak dibayar ( bikin kaos, cetakan dll ).., yah anggap aja lagi pembelajaran
    2. bikin banyak partai, karena menurutku indonesia masih perlu pembelajaran politik; untuk priode2 mendatang, akan saya kembalikan menjadi maksimum 5 partai koq….

    eh, kayak aku aja yang atur yaaaa..
    asa mengkel do hita

    http://rapmengkel.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: