Macet yang tidak biasa

Macet karena hujan, itu biasa. Macet karena lampu merah mati, itu biasa.Macet karena antrian panjang di SPBU terdekat, itu biasa, macet karena kendaraan di Jakarta, sangat biasa.

Macet, karena ibu-ibu merepet-repet dan terus tekak? Nah, ini dia baru luar biasa.

Tak jelas kuikuti pertengkaran antara ex penumpang M26 itu dengan si sopir. Si sopir ngotot, mengembalikan 7000ribu rupiah, sedang si ibu ngotot juga harus 8000, karena jarak dia naik sampai turunnya itu dekat, kenapa harus 3000 dia bayar? Si supir ngotot menuding bahwa si ibu tidak berperasaan, si ibu ngotot bahwa si supir seenaknya saja menaikkan harga ongkos angkutan.Bagi yang tau, jarak yang antara ibu tersebut naik sampai turun, adalah dari Pangkalan Jati sampai ke Gudang Seng. Aku fikir, wajarnya itu adalah Rp2.500. Tapi entah kenapa, mereka selalu saja berdebat.Tidak ada yang mau mengalah, semua merasa benar. Gawat juga ini, fikirku.Mengganggu tidurku di angkot aja. Tapi, tak mungkin juga aku cuekin, tak ada kelarnya, karena si ibu sepertinya sangat tidak mau mengalah, keliatan dari gayanya yang langsung memegang kuat pintu angkot itu. Dan si supir tak mau mengalah karena dia malah melototin si ibu, tapi tak memberikan tambahan uang kembalian. Seperti tak akan ada ujungnya. Akhirnya, kuberanikan diri tanya ibu-ibu yang udah esmosi itu. Aku tanya darimana dia naik (walaupun sebenarnya aku tau, tapi kan tetep aja harus ditanya, supaya jelas masalahnya). Dia katakan bahwa dia naik dari pangkalan jati, dan turunnya di gudang seng, lantas aku tanya si supir, lazimnya sebelumnya ongkos dengan jarak segitu, berapa, dia bilang kadang 2000, kadang 1500. Aku tanya lagi, kebanyakan orang, berapa bayarnya. Dia jawab dengan jujur (aku katakan jujur, karena dia menyebutkan angka 1500 nya, bukan 2000 nya).

Wah fikirku, wajar aja si ibu ini ngamuk-ngamuk, dinaikkan seratus persen. Sedang bensin aja naiknya cuma 30%.Pantasan aja dia ngamuk-ngamuk. Aku jadi balik marahin supir itu, dengan terlebih dulu tanya si ibu aku tanya, berapa dia yang dia tidak keberatan bayar, dia bilang, 2000/2500 pun tak masalah untuknya. Akhirnya, si supir itu ngalah dengan ngasi kembalian lagi 1000 lagi. Habis perkara. Untung baik bapak itu bah. Aku ajak ngobrol, dia bilang, kadang-kadang memang penumpang juga ga ada perasaan, seenaknya aja, udah jauh kadang-kadang cuman kasih 1000 padahal jaraknya lumayan jauh. Yah, iya juga sih, karena bapak itu kan ngejar setoran juga, bukannya angkot punya dia sendiri. Dalam hatiku hanya berdoa, mudah-mudahan hari ini dan seterusnya rejekinya dilancarkan supaya setorannya lancar.Amin

Wah, sekejap itu aku lihat ke belakang macet udah makin panjang, klakson motor/mobil sudah tan tin tan tin dari tadi. Sepertinya aku kurang nyari cara cepat. Yah mau gimana lagi….

Ini menjadi pelajaran berharga untukku di pagi ini. Bahwa uang segitu, yang kadang-kadang dianggap orang nothing, ternyata sangat berguna untuk orang lain. Ini baru di satu tempat, bagaimana di tempat lain? Lantas ini juga harusnya jadi pelajaran untuk pemerintah, bahwa pada saat menaikkan harga BBM harus dibarengi dengan perintah dan keputusan tegas atas tarif jasa angkutan. Jadi, pengemudi tidak seenaknya menaikkan tarif angkutan, karena, kita tak usah cape-cape nyuruh mereka untuk menaikkan tarif selayaknya. Pusing mereka ngurus itu, ngejar setoran aja udah bikin mereka pusing, ditambah dengan tarif-tarif segala macam itu.

4 Tanggapan to “Macet yang tidak biasa”

  1. si ibu borjun kali. kesepakatan tak tertulis perlu hadir lagi…bagi sopir 3000 perak sudah pas menyambung panjangnya kerongkongan jalan setoran. dan si ibu 2000 sudah pas (karena ia juga istri sopir kali) tapi koq…

  2. Farida Simanjuntak Says:

    Iya juga ya eda, kadang kita merasa uang sebesar Rp 500 atau Rp 1000 ga terlalu mahal, padahal sebagian orang nilai segitu udah mahal banget. Makanya sekarang, aku mulai pakai jurus menghitung nilai Ringgit dalam Rupiah, sehingga akan timbul rasa “sayang” dalam diriku untuk mengeluarkan uang demi belanja barang yang kadang hanya buat kesenagan sekejap.

    Tapi kalau aku ikuti perkembangan dari media maupun cerita dari kampung kita sana, memang makin susah dan mahal semuanya. Semoga akan ada pembaharuan yang memperbaiki kehidupan rakyat di negara kita

  3. @moramona….

    ish…jgn kek gitu lah, emang sih borjun itu terkenal dgn remeng nya… tp kurasa tak pe kek gitulahhhh

  4. wah emang borjun terkenal dengan remengnya,kalau tidak remeng itu bukan borjun……
    maaf yah ito – ito ku emang kenyataan kan…….

    http://ananknaholsoan.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: