Eksekusi mati satu bulan terakhir ini

Tak kurang dari 7 orang terpidana mati di eksekusi satu bulan terakhir ini. Dimulai dari dua orang terpidana mati asal Nigeria, Samuel Iwachekwu Okoye dan Hansen Antony Nwaoysa, kemudian dilanjutkan dengan dukun AS, Dukun palsu Usep, ibu dan anak, Sugeng dan Sumiarsih dan yang terakhir adalah Si Martil Maut, Rio Alex Bulo.

Apakah kejaksaan sedang kena deadline? Atau memang sedang membenahi diri untuk lebih baik? Atau untuk menimbulkan efek jera di kalangan penjahat, atau hanya karena udah bolak-balik di demo masyarakat? Atau, atau atau apa lagi?

Dari kesemua nama terpidana mati yang sudah di dor itu, yang paling proses cepatnya adalah, Dukun palsu Usep, dengan nama asli Tubagus Maulana, warga Lebak Banten. Divonis mati oleh pengadilan negeri Rangkas Bitung pada Maret 2008 lalu, dan sudah di ekesekusi pada bulan Juli 2008. Tadi malam, aku tonton liputannya di TV One, disebutkan bahwa setelah vonis mati di tingkat pengadilan negeri, tidak seperti pesakitan kebanyakan, Dukun palsu Usep langsung terima putusan tersebut. Pengacaranya sudah mencoba membujuk dan menanyakan kenapa dia tidak mencoba upaya hukum yang ada? Toh semua warga negara punya hak yang sama di mata hukum (katanya sih begitu). Tapi si dukun palsu itu hanya jawab ”buat apa lagi di ulur2?kalau terus menerus saya dihantui perasaan bersalah dan tidak tenang, lebih baik saya pertanggung jawabkan perbuatan saya”.

Dan yang paling lama untuk dieksekusi dari antara itu semua, adalah Sugeng dan ibu kandungnya Sumiarsih. Mereka harus menunggu 20 tahun untuk di dor regu tembak. Entah bagaimana perasaan mereka selama 20 tahun menunggu itu. Rasanya seperti dipermainkan saja. Bukankah harusnya hukuman mati itu ada kadaluwarsanya? Kalau memang sudah tidak ada belas kasihan untuk mereka, sudah tidak ada pengampunan untuk mereka dari petinggi-petinggi di lembaga hukum sana, jangan mempermainkan perasaan mereka seperti itu.

Dua nama pertama yang dieksekusi bertepatan hari anti narkoba internasional, adalah dua orang warga negara asing, Nigeria. berkaitan dengan kasus narkoba. Mereka dijatuhi vonis mati di tahun 2001, kurang lebih 7 tahun mereka menanti. Untuk 2 dukun palsu selanjutnya, dalam kasus yang sama, mengaku sebagai dukun yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit, itulah yang dilakoni oleh dukun AS. Dalam karir kedukunan nya, tidak kurang dari 42 nyawa dia habisi. Dan menurut pengakuannya, itu dia lakoni untuk mendalami ilmu hitam. Haiyah….

Sama-sama dukun palsu, tapi dukun usep memilih bidang yang beda, dia mengaku bisa menggandakan uang. 8 nyawa melayang di tangannya. Ke 8 nyawa itu adalah pasiennya yang sudah bolak-balik menuntut pertanggung jawaban uang yang sudah mereka berikan untuk digandakan. Pusing ditagih terus, dia pun menyiapkan ramuan ala dukun Usep, yang mengantarkan pasien-pasien nya itu ke liang maut. Dan dia kuburkan di sekitar rumahnya. Ibu dan anak Sumiarsih dan Sugeng, divonis mati tahun 2008 bersama dengan suami dan menantu Sumiarsih juga (suaminya sudah terlebih dahulu meninggal karena sakit di rumah sakit Porong, Sidoarjo dan menantunya di dor dua tahun setelah vonis mati itu). Mereka di vonis atas pembunuhan terhadap keluarga Letkol (Mar) Purwanto, 13 Agustus 1988. Adapun latar belakang pembunuhan itu adalah, masalah hutang piutang yang berkenaan dengan usaha bersama mereka di gang Dolly.

Sedangkan yang paling gress, baru di dor tadi malam, adalah si martil maut, Rio Alex Bulo. Dijuluki demikian, karena empat dari lima korbannya dia habisi dengan menggunakan martil. Dan satu lagi korbannya, dia habisi di dalam LP Permisan Nusakambangan. Seorang Koruptor yang juga guru ngajinya. Motif pembunuhannya, hanya karena si martil maut ini tersinggung dengan ucapan mantan guru ngajinya, yang mengatakan bahwa si martil maut hanya jagoan kalau di luar saja. Tidak terima kehebatannya dilecehkan, diapun memberi pelajaran kepada temannya sesama napi itu. Dan diakui beberapa aparat yang pernah menjadi penyidik untuk kasusnya, bahwa bapak tiga anak ini, memiliki ilmu yang tinggi dan sangat lihai. Polisi sendiri pernah menyaksikan kemampuannya dalam membuka borgol yang dikenakan di tangannya hanya dalam hitungan menit. Mengantisipasi hal-hala yang tidak diinginkan, maka detik-detik menuju eksekusi lelaki asal Sulawesi ini, dikerahkan ratusan Polisi dan Dalmas untuk mensterilkan wilayah sekitar Lapas Purwokerto sampai menuju tempat eksekusi.

Masih tersisa beberapa orang lagi terpidana mati yang menunggu saat berhadapan dengan regu tembak. Entah siapa yang menyusul dalam waktu dekat ini. Yang paling santer dibicarakan adalah eksekusi untuk pelaku Bom Bali I, Amrozi,cs. Tetapi belum tau kapan.

Setiap mendengar atau melihat berita yang berkaitan dengan eksekusi mati, aku selalu bertanya, gimana perasaan si penembak? Bagaiman perasaannya dia menjadi algojo? Menghabisi nyawa orang lain. Apakah masih ada pergulatan dalam batinnya antara tugas dan kemanusiaan?

3 Tanggapan to “Eksekusi mati satu bulan terakhir ini”

  1. Kita harus bertanya langsung sama mereka (anggota regu tembak) itu.

    Partalitoruan
    Imadah tulang, roha i nian adong ma kesempatan manukkun langsung tu nasida, boha perasaan nasida i.

  2. Farida Simanjuntak Says:

    Horas eda….
    Yang pasti, orang yang sudah terpilih untuk mengemban tugas menjalankan eksekusi mati juga memiliki perasaan bersalah dan ga tega. Karena itulah, jauh sebelum hari “H” mereka dikarantina dan diberi pendalaman. Mental dan phisik mereka juga harus sehat 100 %. Untuk menghilangkan rasa takut, bersalah dan ragu-ragu, mereka dititik beratkan kepada tanggung jawab menjalankan tugas dan juga kesalahan besar yang sudah dilakukan si terpidana mati…
    “Memang kita tidak berhak menghukum mati mereka, tapi mereka pu tidak berhak menghabisis nyawa orang lain dengan cara sadis”. Keadilan tidak akan pernah ada di muka bumi ini karena itu hanya TUhan yang punya.

    Tapi untuk kasus Ryan si algojo dari Jombang, aku setuju banget secepatnya dia dihukum mati. Psikopat kelas berat gitu, ga akan penah merasa sudah melakukan pembunuhan….

    Partalitoruan
    Terbayang ma au eda, piga ari ma nuaeng dang boi modom i ateh dung sidung manembak penjahat i?Sai tarbayang-bayang ma ra ibana ate eda.Isssh tahe

  3. da..
    yang kutau dba regu tembak itu ada 12 orang
    dan peluru tajam itu hanya satu dan lainnya itu peluru hampa..dari keduabelas orang itu mereka gak tau itu sapa mereka yang diisi peluru tajam..
    Perasaan bersalah mungkin ada kali yah da.,
    cuma namanya tugas dan tanggung jawab gmn donk??
    aku juga kadang kepikiran..
    hidup dan mati di tangan Tuhan..
    tapi gmn juga perasaan mereka yang di eksekusi mati itu yah da..
    mereka tahu hari apa mereka meninggal..
    dan itu mereka tunggu2..
    tapi itulah mungkin konsekwensi mereka..
    ahh tahee..
    ngeri ma

    Partalitoruan
    Apapun judulnya itu, tak kutemukan kebenaran pelaksanaan hukuman mati itu dimana. Efek jera kah? Atau apakah, tak ngerti lah ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: