Semoga kau bahagia, kawan

Pagi-pagi (atau bahkan bisa dibilang masih subuh) aku sudah dikagetkan dengan bunyi handphone berisik! Siapa lagi ini yang tak tau malu telepon jam segini?Bolak balik lagi. Tak tau apa, jam segini,jam 3 subuh itu adalah jam mata menempel, tidak ada kompromi untuk dibuka. Kecuali lagi spend night dengan ale-ale di meja 19. Dengan sangat terpaksa kuangkat telepon itu.

Karena samar-samar, tak jelas kutengok nama penelponnya. Satu menit pertama, nyawaku belum terkumpul utuh untuk mengenali siapa dia. Untuk melihat siapa yang menelepon, malas. Dan akhirnya aku pun mulai mengenali suara itu. Setelah dia mengeluarkan makian yang sebenernya siapa aja bisa bilang begitu, tapi dialeknya, kuyakini hanya dia satu2 nya yang bisa begitu di muka bumi ini. Dan akupun mulai merubah posisiku untuk mendengarkan dia berbicara, karena dia sudah bolak-balik mengumpat supaya aku serius mendengar dan menanggapi dia. Tampaknya dia tau, aku belum sepenuh hati mendengar dia. Dari kata-kata ”beneran deh gw ga kuat, masa orang tua gw……” tapi apa di belakang kata2 orangtua gw itu, tak jelas aku tangkap. Jadi, aku berfikir bahwa ada masalah dengan orang tua atau keluarganya. Eh, kenapa makin aku denger, makin ngaco? Bukannya tentang orang tua, kog bolak-balik nyebutin nama pacarnya?Logh kog aku jadi ga mudeng ini. Akhirnya, dengan mengambil resiko akan diomelin besar-besaran, aku minta diulang. Dan bener saja, dia ngomel dulu lamaaaaa, baru bersedia mengulang.

Akhirnya aku sekarang mengerti. Bahwa dia itu kesal dengan keluarga dan orangtuanya, karena tidak memperbolehkan dia menikah dengan pacarnya itu. Alasan orang tuanya, umurnya masih sedikit, belum mapan dua2 nya. Dan sifat kawanku ini sendiri masih jauh dari kategori dewasa. Nangis meraung-raung kalau keinginan tidak diuturuti, apakah sudah bisa disebut dewasa? Dan dia sangat tidak suka dengan alasan orang tuanya itu. Lalu, karena aku hanya diam, dia juga ikutan memarahiku. Lalu, tak terima dia marahi, aku pun marah balik. Aku katakan padanya, bahwa aku diam saja, karena tak tau apa yang mau aku sampaikan padanya. Kemudian, dia tanya, apa yang harus dia lakukan supaya keluarga terutama orang tuanya setuju dengan keinginan dan pilihannya itu. Logh? Apakah pertanyaan itu ga salah? Bukankah dia sendiri yang lebih kenal dan lebih tau karakter orang tua dan keluarganya? Itu artinya, dia yang lebih mengerti apa yang membuat hati keluarganya itu luluh, dan mau menuruti kemauanya itu. Bukan tanya sama aku. Kemudian, dia bilang, dia mau minta pacarnya menghamili dia, supaya pada akhirnya, keluarganya setuju dan mau nda mau terima dan lantas menikahkan mereka. Bah!Sudah rusak kurasa otak kawan ini, fikirku. Kutentang dia, kukatakan, aku rasa itu bukan jalan terbaiknya, lebih baik melakukan pendekatan persuasif, jadi sama-sama tau apa yang mereka inginkan. Dia tetap tidak setuju, dan tetap ingin melaksanakan jalan terbaik menurut dia itu. Ya udah, kesal, akhirnya kukatakan padanya, terserah deh. Kalo emang udah punya solusi sendiri, kenapa harus telepon? Kenapa harus mengganggu jam tidur orang? Dasar!

Akhirnya dia pun diam. Dia katakan dia emosi dalam menghadapi hal ini. Lalu aku katakan padanya, kalau memang dengan marah-marah akan mendatangkan kebaikan dan solusi dari masalahnya, maka aku akan ikut marah. Supaya masalah dia kelar. Nah, sekarang masalahnya adalah, bahwa itu tidak mendatangkan solusi yang baik. Itu malah akan mendatangkan masalah baru diatas masalah lama yang masih menggantung.

Dan dia pun terdiam. Akhirnya, aku katakan untuk melakukan pendekatan persuasif, supaya dia tau betul apa alasan mendasar orang tua nya menolak keinginan dia itu? Mengingat, selama ini orangtua nya sangat sayang padanya, bahkan permintaan yang berlebihan aja selalu dikabulkan. Misalnya, punya mobil di usia 15 tahun, SIM aja belum punya. Aku tiba-tiba agak merasa bersalah (tapi tak kusampaikan padanya). Pada saat ku mengatakan terserah padanya, karena tiba-tiba aku ingat bahwa anak ini paling tidak bisa ditantang, paling tidak bisa diremehkan. Karena selalu mendapatkan apa yang dia mau. Jadi, aku fikir lebih baik melakukan pendekatan baik-baik. Aku lega pada akhirnya, dia mau melunakkan sedikit kepala batunya itu. Tinggal menunggu sedikit saja, bagaimana hasilnya nanti setelah dia melakukan pendekatan dengan keluarga terutama orang tuanya. Lalu kami nanti aku akan membantu bagaiman solusi terbaik nya (kira-kira), kalau memang dari sisi orang tua, aku akan mengandalkan tulang-tulangku telah menjadi sahabat bagiku di Toba Dream. Karena mereka akan lebih berpengalaman di bidang itu.

Menurut perkiraanku, waktu untuk melakukan pendekatan itu, kurang lebih satu sampai dua minggu lah atau bahkan bisa lebih. Dua hari setelah kejadian itu, dia meng sms ku, mengajak ketemuan di suatu tempat. Dia bilang, dia akan jemput aku dari kantor. Tanpa menaruh curiga sedikitpun, maka aku pun deal untuk waktu dan tempatnya. Ternyata tempat tujuan tidak sesuai dengan rencana semula, dia malah memakirkan mobilnya di rest area suatu jalan tol. Aku makin bingung, kemudian, dia hanya memegang tanganku, lalu menangis, dan lalu memelukku. Aku makin bingung, ada apa ini, fikirku. Tapi, aku biarkan sampai tangisnya reda, dan cukup tenang untuk menceritakan apa yang sedang terjadi. Dan akhirnya, dia menceritakan, bahwa saat ini dia positif hamil, dia tau siangnya setelah ke dokter untuk tes. Karena sebetulnya, dia sudah merasa hamil.

Wah, aku sangat syok, dan tidak bisa berkata apa-apa. Yah, aku memang merasa dikhianati, baru ditanya pendapat setelah dia telah melakukan nya. Bagaimana mungkin? Ini kah yang disebut teman? Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sepanjang jalan, otakku terus berputara, memikir-mikir, entah apa yang aku fikirkan, ga jelas. Aku masih bingung, bisa-bisanya dia mengambil keputusan begitu.

Ternyata, trik dia itu berhasil. Dan akhirnya keluarga pun setuju untuk menikahkan mereka. Ah, aku hanya berharap mudah-mudahan di usianya yang relatif masih muda, 23 dia bisa menjadi istri, dan ibu yang baik dan bertanggung jawab untuk keluarganya kelak. Ah, teman, hanya itu doaku untukmu.

3 Tanggapan to “Semoga kau bahagia, kawan”

  1. Farida Simanjuntak Says:

    Cinta yang membabi buta…..
    Sifat manja yang berlebihan…..
    Telah membuatnya berpikiran pendek.
    Semoga ini bukan suatu awal dari kesalahan sepanjang hidup..

  2. Yah semoga dia bisa berbahagia dalam mengarungi bahtera rumah tangga…..

  3. 23 udh cukuplah des.. ompungku najolo udah 2 anaknya diumur segitu (bapakku dan bapaudaku).
    memang umur tidak menjanjikan olang udah dewaca apa belon…
    ndang i tahe.. ma Eciii..
    ‘matua ale ndang matoras’.. ninna natua2.

    Partalitoruan
    Aku pake ukuran ku bang dalam hal ini😉
    makanya dang margira tudia dope

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: