Ibu Musripah -1

Kalau kau melintasi suatu tempat, dan menemukan suatu kejanggalan, singgahlah sebentar, siapa tau ada seseorang yang memerlukan bantuanmu disana.

Ada yang sering lewat Cawang? Tau kah kalian ada terowongan disitu, ke arah Tanjung Priok itu? Apakah kalian merasa wajar jika ada seorang ibu yang duduk disitu, berpakaian rapi, menenteng tas besar, seperti hendak bepergian dengan wajah murung? Dan tampak seperti orang stress.

Itulah yang aku lihat tadi malam. Ibu dengan kerudung hitam, dengan kemeja merah muda, dan bercelana agak coklat. Duduk di kolong terowongan, di tengah lalu lalang kencangnya bis, mobil dan motor melaju. Dan pengapnya tempat itu, serta banyaknya debu disana. Dengan muka yang sangat putus asa tampaknya. Aku melintasinya pada saat aku mau pulang ke rumah. Daniel agak kencang memacu motornya lewat situ, karena memang riskan sekali jika disitu lambat terhadap kendaraan yang ada di belakang kita. Aku hanya lihat sekilas memang wajah ibu itu. Tapi, entah kenapa sepertinya aku merasa aku harus berbuat sesuatu untuknya.

Akhirnya terjadilah dialog singkat antara aku dan Daniel

”Niel, ngapain mamak-mamak itu disitu?”

”Ai ido hubereng do i, alai bingung au, boasa pengemis di tempat naso dilewati jolma ateh?”

“Dang narittik manang pangido-ido i ias do bajuna, mamboan tas na balga do ibana. Hera na stress do huida, ago yamang sotung itombomhon ma annon ibana tu motor manang mobil na lewat sian i”

” Bah tutu”

”Beta ma, putar balik ma, asa tabereng”

Akhirnya kami mengambil arah putar balik. Untuk melihat dan memastikan apa yang terjadi dengan wanita itu. Aku perkirakan umurnya sudah hampir 50 tahun, belakangan aku tau umurnya masih 42 tahun, tapi mungkin penderitaan hidup menggerogotinya, membuat dia tampak lebih tua. Begitu masuk terowongan, kepala ku sudah gelisah, melihat ke arah depan, memastikan si wanita itu masih disitu.Thanx God, dia masih disana ternyata. Persis di dekat si ibu, kami berhenti. Dia kaget, dan tampak dia menarik tasnya mendekat ke arahnya. Aku turun, dang lansung bertanya kenapa si ibu itu duduk disitu.

Desy : Ibu, kenapa duduk disini?

Ibu: ….(diam tampak ketakutan)

Desy : (sambil sedikit tersenyum, aku coba sentuh kakinya), ibu kenapa disini? rumah ibu dimana?

Ibu: …(masih diam, seraya menarik tas nya lebih dekat ke arahnya)

Daniel : Rumah ibu dimana?

Ibu: …(masih diam)

Desy: Ibu kenapa disini? Rumah ibu dimana, coba ibu kasi tau, kita ga mau jahatin ibu kok

Ibu : Rumah saya di Jawa Timur, di Lumajang.

Desy : Loh? ibu disini ngapain?

I: Saya baru kabur..

Da : bah lari sian dia do inanta on?

De : Ibu kenapa kabur, kabur dari mana?

I : Saya kabur dari dinas sosial di Bambu Apus.

Da : Loh kenapa bu?

I: sebelumnya saya ini kerja di Bangka. Pas mau pulang ke Jawa Timur, sampai Palembang doang, dompet saya sudah hilang. Semua uang hilang.

Da : Ibu masih ada nyimpan KTP?

I : sudah nda ada.Saya Cuma dikasi surat keterangan sama Polisi, trus dari sana, saya dititip sama bis, sampai Jakarta

Da : disini, ibu punya saudara?atau anak?

I: nda punya. Keluarga saya semuanya di Lumajang.

Da: ibu punya nomor teleponnya?

I:Nda ada, semuanya hilang. Di kampung saya nda ada nomor teleponnya, listrik juga nda ada

De : (bah hari gini, masih ada tempat di Indonesia ini yang tak punya listrik, ngeri kali)

De & Da : Jadi, ibu mau pulang kemana sekarang?

I : saya mau pulang ke Lumajang, tapi saya ga punya uang.

Tanpa pikir panjang, aku dan Daniel berdiskusi dan memutuskan untuk bertanggung jawab soal kepulangan si ibu ini ke kampungnya. Sebelumnya kami menanyakan apakah dia masih ada identitas atau tidak. Kami hanya ditunjukkan surat keterangan kehilangan dari kepolisian. DI surat yang dikeluarkan di bulan Juli tersebut, hanya diinformasikan bahwa si ibu kehilangan KTP, itu saja. Tidak ada embel-embel yang lain. Dan sudah lebih satu bulan, si ibu tersebut di tahan di dinas sosial di daerah Bambu Apus tanpa kejelasan kapan akan diurus kepulangannya ke kampung halamannya. Supaya bisa membicarakan dengan tenang tentang langkah selanjutnya, kami memutuskan untuk bergerak pindah dari terowongan tersebut……..

5 Tanggapan to “Ibu Musripah -1”

  1. Farida Simanjuntak Says:

    Hari gini, memang msih banyak kemelaratan mengerogoti bangsa Indonesia. Jangankan telepon dan listrik, bisa makan 3 kali sehari aja udah sangat bersyukur….

    Kasihan ibu ini….

    Partalitoruan
    Imadah eda, dang boi hubayanghon, tempat yang tidak ada listrik, i jaman sonari on..😦

  2. Maulina br sirait Says:

    Desy….dihita an pe godang dope binoto naso masuk listrik , hea nisungkun boasa dang di pamasuk listrik tu hutaon ? alasan orang itu biayanya mahal …mungkin deba alani angka dolok2 i ai maol pajongjong tiang ni listrik i.

    Partalitoruan
    Ima dah ate ka😦

  3. gak usah terlalu prihatinlah tentang kondisi di lumajang yang diceritakan ibu musrifah …
    setertinggalnya pulau jawa …, kita disono masih jauh lebih ketinggalan
    aq yakin, desa tempat ibu itu pasti sudah dilintasi jalan dengan lapisan aspal hotmix ….
    btw, lumajang desa mananya ya ??

    http://rapmengkel.wordpress.com

  4. Burju nai ho Ito des.. perhatianmu i bah… salutttt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: