Entah apa namanya

Dari jaman dulu, orang Batak sudah terkenal sebagai diplomator ulung. Pendebat ulung, politkus ulung. Banyak lagi lah hal-hal ulung dari halak hita ini.

Satu yang masih keciri sampai sekarang adalah  bahwa halak hita itu rata-rata bersuara lantang. Ga usah nungguin mereka berantem, bicara biasa aja suaranya pun udah kuat! Apalagi kalau sedang bertobat. Orang yang tak tau kalo dalam perdebatan itu ada halak hitanya, pasti mengira itu berantem.

Begitulah yang aku lihat minggu malam kemaren di salah satu lapo di bilangan Pramuka sana. Bedanya, aku tau kalo mereka berdua halak hita. Dari perawakannya, dari nada bicaranya, dan tempat mereka berdialog [masih dialogkah dengan suara sekuat mereka itu?]

Pulang gereja, aku rasanya ingin sekali menikmati manuk napinadar,hmm udah lama tak makan itu aku bah. Akhirnya aku meluncur dari Kuningan ke Pramuka. Ternyata sudah habis, jadilah aku makan sangsang, tak apalah tabo do tong i. Lupakan lah dulu virus babi itu, tak apa-apanya itu.

Aku duduk dekat dengan pintu masuk. Berjarak satu meja dari tempatku, duduk dua orang bapak yang kalau aku taksir dari perawakannya, udah ada lah itu 40 an dan 50 an. Awalnya, tak ada yang menarik dari dua mahluk adam itu. Sampai pada akhirnya mulai lah mereka menaikkan nada bicaranya. Dan aku pun mulai melirik dikit-dikit ke arah meja mereka. Kog dikit? Ya iyalah, siapa pulak yang mau disemprot orang itu? Karna bukan hal baru untuk orang batak mansonggakkan orang yang mau ikut campur urusannya. Ngeri juga awak kan.

Akhirnya aku berikan lah perhatian khusus untuk kedua ama-ama itu. Bah, jadi panangi-nangi awak. Akhirnya, sedikit-sedikit aku bisa mengerti apa yang mereka bicarakan [asumsi bermain]. Sepertinya si bapak yang lebih tua itu,kecewa dengan bapak yang muda itu, karna asik-asik disonggakinya kawan yang lebih muda itu kutengok. Banyak bagian dari percakapan mereka yang membuat aku senyum-senyum. Apalagi di bagian, si bapak tua itu melarang dan merampas hempon dari tangan bapak muda itu, dia melarang menelepon “siguriapus” itu. Bah, ada pihak ketiga rupanya. Makin seru fikirku. Makin khusus perhatian awak kan.

Aku udah harap-harap cemas aja menunggu adegan yang lebih dramatis. Jangan sampek ada adegan menampar atau menonjok disitu kan. Sampai aku selesai makan, tak ada adegan itu. Ah,baguslah tak mau juga awak jadi saksi berantam orang di lapo.

Memang, walau aku tau dari dulu bahwa kami, halak hita, sudah bernada suara tinggi, tapi aku pun masih tak habis fikir, kenapa seribut itu suara orang itu berantam?

Eh, terjawab juga pertanyaan itu. Terlihat pas si bapak muda itu sedikit bergerak, ternyata ada bir di atas meja orang itu. Pantasan ma attong, fikirku. Makin kuat lah pulak suara orang itu. Orang ada bir di tengah-tengah dialog itu.

Eh tahe, tulang entah amangboru entah opung, lain kali kalo mau debat atau dialog, biar sampek tak marbada, janganlah pulak ajak bir terlibat dalam diskusi itu. Kek mana tak makin panas. Makin mendidih lah dialog itu kan.

Aku pulang dengan senyum-senyum berharapa pemilik lapo itu “mengusir” mereka dengan menutup laponya. Sotung tamba muse bir i, bisa gaswat.

2 Tanggapan to “Entah apa namanya”

  1. NDH (K7-8 Medio):

    PRODUK DIALOG ALA
    DEMOKRASI DNT DALIHAN NA TOLU BATAK

    1) Prinsip ” Si Boru Puas” ucapkan gamlang tanpa alngaling tak simpan
    2) IT Imiahteknologi Moderen Warga Keluarga Desa Kecamatan majukan IT
    3) Apalagi oleh Historiografika Generasi Regenerasi Region Interkontinntal
    4) Saya mulai tanyak umur 4 th darimana vegetaip animal human / Tuhan itu
    5) Tidak dijawab Firman Iparkutertua malah bilang janan terus nanti saset
    6) Saya diam tapi katakan diri nanti masuk sekolah dan studilanjut
    7) Menjawab sendiri
    8) Saya sampai kini sudah di Interkontinental turut Coba Pencerah

  2. KURANG DIPLOMASI DI ANTARINDONESIA

    Lihat Urusan Protap mulai 1983 sampai 2009 tak berhasil.

    Di Diplomat Internasional misal PBB, Masa Menlu Alatas di PBB Bicara dan Batak Agus Marpaung Dubes RI di Australia bicara, maka Dunia ngaku NKRI. Penghormatan di Deplu, Marpaung Diplomat Tertbaik NKRI.

    Tapi Batak tujujurnya bukan main, sampai bisa disogopk hanya memberi hormat kata-kata atau dengan Tuak seperti Jerman dengan Bir. Terahir saya dengar dari Ketua Budaya Bataktoba Napitupulu, dang di hami ndang di ho tumagon di bergu, ndang di ho tumagon di hami !

    NDH : Satuju !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: